Doa Untuk Gaza
Sudut Pandang

Beberapa hari sudah Israel melancarkan serangan kepada Jalur Gaza, salah satu wilayah konflik Israel-Palestina. Serangan yang disebut hanya sebagai ‘Pembelaan Diri‘ Israel, namun telah memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Orang-orang tak bersalah dan warga sipil tak bersenjata pun turut menjadi korban dari serangan ini.

Indonesia bereaksi dengan berbagai macam cara. Berbagai kalangan berkumpul dan berorasi dibeberapa tempat. Ada juga kelompok aktifis baik dari Mahasiswa dan Umum, baik itu organisasi keislaman maupun Sosial berkumpul dan mengadakan penggalangan dana. Sebelumnya juga terjadi pelarangan Advokat asal Israel untuk memasuki wilayah Indonesia.

MUI daerah Kalimantan Selatan pun memberikan beberapa seruan terkait hal ini, antaranya menganjurkan kepada seluruh masyarakat Islam untuk melakukan Qunut Nazilah setidaknya dalam sepuluh hari yang akan datang secara berturut-turut. Qunut ini dilaksanakan setiap sholat lima waktu dengan mendoakan untuk kesabaran dan kekuatan warga Palestina dalam menghadapi orang-orang yang mendzhaliminya. Selain itu, para Khatib di Kalimantan Selatan dihimbau agar menyampaikan keprihatinannya tentang masalah Gaza agar masyarakat luas juga bisa merasakan derita saudaranya diluar sana.

Lalu apa yang aku lakukan? Entahlah. Setidaknya aku sudah menulis tentang ini dan apakah ini juga bisa disebut perjuangan atau tidak itu tak masalah. Dalam keadaan seperti ini, hal yang bisa kulakukan adalah berdoa dan terus berdoa, itu saja. Dan apakah nantinya aku bisa melakukan hal lain, biarlah waktu yang akan menjawab.

Banyak juga orang-orang yang mengkritik reaksi ini. “Masalah dalam negeri saja belum beres malah mau ikut camput masalah orang lain. Lagian Israel nggak ada malah dengan kita, kok kitanya yang sewot? Masa karena hal-hal yang nggak berhubungan dengan kita hubungan Indonesia-Israel memburuk?”.

Disebutkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa “penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Pernyataan yang menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa segala bentuk penjajahan diseluruh dunia merupakan hal yang bertentangan dengan Indonesia. Begitu pula dengan kasus Israel-Palestina, juga harus diperjuangkan oleh bangsa Indonesia karena kesamaan nasib yang menimpa kedua negara tersebut.

Dulu Indonesia juga mendapat bantuan beberapa negara untuk mempertahankan kemerdekaannya. Dan negara Islam saat itu, Mesir adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Perjuangan kemerdekaan itu sendiri mendapat bantuan dari tokoh-tokoh Islam Internasional seperti Hassan Albana yang merupakan tokoh pendiri Ikhwanul Muslimin, salah satu organisasi Islam yang menentang keras serangan Israel terhadap Palestina. Dengan demikian sedikit reaksi dari Indonesia ini sebagai balas budi dimasa lalu. Walau alasan ini terlihat sedikit dipaksakan.

Sebagai orang bodoh, kok saya melihat serangan Israel ini seperti mengolok-olok Mesir ya. Sekarang Mesir dipimpin oleh presiden yang beraliran keras dalam memperjuangkan kebebasan Palestina. Seakan-akan Israel ingin melihat reaksi Mesir terhadap apa yang telah mereka lakukan. Entahlah. Namun jika ini benar, peperangan terbuka antara keduanya bisa saja terjadi jika terus dibiarkan. Hal ini tentunya akan membuat negara-negara lain termotivasi untuk mengangkat senjata.

Saya juga agak kecewa dengan PBB yang tak pernah bisa menyelesaikan konflik ini. Bagaimana mungkin serangan Israel yang menewaskan orang-orang tak bersalah dianggap wajar sebagai Pertahanan Diri negara Israel. Rasanya wajar jika Soekarno dulu dengan keberaniannya menyatakan keluar dari PBB.

Namun hal yang pasti, Gaza memiliki sesuatu yang kita sendiripun mungkin belum memilikinya. Mereka mencintai kematian seperti kita mencintai kehidupan. Dan hal seperti yang saya katakan sebelumnya, hal yang bisa saya lakukan untuk saat ini adalah menulis dan berdoa.

sebarkan facebook Twitter Google Plus
Arief Putera - Doa Untuk Gaza - Teropongku.com - 628-9897-54-275 -33285 - 1145892