Kisah Inspirasi Tentang Ayah dan Ibu: Tergantung Sudut Pandang
Inspiratif, Sudut Pandang

Alkisah, ada dua orang pemuda yang berkawan Akrab. Sebut saja pemuda yang pertama bernama Fulan dan pemuda yang kedua bernama Abdullah. Mereka berdua sama-sama sama mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing. Hampir tak ada secuil rahasia pun yang mereka sembunyikan satu sama lain.

Abdullah ialah seorang yang rajin beribadah. Prestasinya disekolah juga luar biasa. Ia sudah wisuda dengan nilai kumloude di PTN ternama. Tetapi sejak sekolah dasar dia sudah kehilangan orang tua yang telah lebih dahulu menghadap sang Maha Pencipta. Sejak itu juga Abdullah selalu berjuang menghadapi kemiskinan yang menggerogotinya, bahkan masih demikian selepas sudah memegang ijazah sarjana.

Adapun Fulan lain lagi. Orang tuanya memiliki harta yang berkecukupan. Fulan adalah anak yang pertama, membuat kasih sayang dan ekspektasi orang tua begitu besar kepadanya. Namun di masa lalu, dia membuat kesahalah hingga akhirnya putus kuliah.

Ekspektasi yang besar namun tak sebanding dengan hasil yang sang anak berikan, membuat dilema tersendiri bagi orang tua Fulan. Di satu sisi mereka sangat menyayangi anaknya, tetapi kekecewaan yang menjadi-jadi membuat mereka berubah sikap.

Sekarang Fulan sudah bertobat dan mencoba membayar masa lalu yang telah ia rusak, namun ia menyadari bahwa ia tak akan pernah mungkin bisa memperbaiki masa lalunya. Ia sadar bahwa rumah yang ia tempati tak bisa lagi nyaman untuknya. Ayah dan ibu yang begitu dingin tak lagi kuasa ia tatap.

Fulan berkuliah lagi meski dengan umur yang sudah lewat. Ia tak bisa meminta ‘jatah’ lagi sekarang, dan mesti membanting tulang setiap hari demi membiayai segala kebutuhannya. Berat memang, terlebih jika terdengar kabar tentang kawan-kawan yang dulu seangkatan, silih berganti memakai toga.

Ditengah kepedihan itu, Abdullah dan Fulan hanya bisa memilih 2 alternatif. Memilih untuk menjadi positif atau berakhir negatif.

Bisa saja mereka berakhir menjadi negatif dengan menggunakan sudut pandang negatif.

Bisa saja Abdullah berfikir,
“duh enak sekali menjadi Fulan. Dia sudah mempunyai segalanya. Ayah dan ibunya masih hidup, memiliki harta yang berkecukupan pula. Segalanya kesusahannya ini hanya karena Fulan yang memang tidak becus menjadi seorang anak !!!”

Atau Fulan berkata,
“Duh enak sekali menjadi Abdullah. Andai saja ayah dan ibuku sudah meninggal, aku tak perlu lagi berpusing-pusing dengan segala ekspektasi mereka. Lihatlah Abdullah, dia bisa melakukan apa saja yang ia mau, mengambil jurusan kuliah yang ia suka, tanpa harus terhalang restu orangrang tua”

Tetapi keduanya memilih untuk menjadi positif, dengan sebuah sudut pandang sederhana.

Abdullah lebih memilih untuk berkata,
“Sungguh kasihan sahabatku Fulan. Dia bahkan tidak merasakan hadirnya Ayah dan Ibu meski keduanya masih hidup. Aku tahu ayah ibu sudah meninggal, tetapi aku begitu tahu bahwa ayah dan ibuku sangat mencintaiku bahkan sampai mereka menghembuskan nafas terakhirnya. Sedangkan fulan, harus bekerja keras siang dan malam meski ayah dan ibunya masih mampu. Dan aku, aku selalu mendapat kemudahan dimanapun aku berada. Aku mendapatkan kemudahan dalam studi, begitu pula dalam karir karena setidaknya ijazahku satu tingkat lebih tinggi diatasnya.”

Namun Fulan berpandangan lain,
“Segala kesulitanku sekarang tak lebih dari sekedar secuil dari kesulitan ayah dan ibu dalam membesarkanku. Aku paham betapa kecewanya mereka, dan aku harus membayar semuanya, setidaknya bisa kembali menorehkan senyum indah di pojok bibirnya. Dan jujur saja, aku lebih beruntung dari Abdullah. Bagaimanapun juga Ayah dan Ibu masih hidup. Aku masih bisa berharap melihat mata tulus mereka. Sedangkan Abdullah, hanya bisa melakukannya dalam sebuah mimpi indah yang tak akan pernah menjadi realita. Setidaknya aku masih bisa berharap mereka bisa menerimaku kembali di waktu yang akan datang.”

Dan dengan kedua sudut pandang tersebut, keduanya berkawan akrab, saling membantu dan melengkapi.

Entah benar atau salah sudut pandang yang mereka ambil, hanya Tuhan-lah yang maha mengetahui.

Tetapi setidaknya meski sudut pandang tak berfaedah secara kongkrit, mengambil sudut pandang positif akan lebih mendamaikan hati. Toh akan terasa lebih sakit jika dalam keadaan yang sulit dengan kondisi hati yang negatif.

Arief Putera
Banjarmasin, 19/3/15 09.51

Note:

  1. Diambil dari kisah nyata.
  2. Nama tokoh bukan nama yang sebenarnya
  3. Pos ini juga akan diposting di status facebook dan blog pribadi saya
sebarkan facebook Twitter Google Plus
Kisah Inspirasi Tentang Ayah dan Ibu: Tergantung Sudut Pandang | arief16 | 4.5