.“Jangan terus-terusan mengeluh, kuliah aja yang bener. Masalah biaya jangan terlalu dipusingkan. Orang tuamu tentu nggak akan membiakanmu kelaparan. Intinya syukurin aja apa yang kamu punya, entar Tuhanmulah yang akan ngebantu, asal kamu yakin aja” kata pak Amat kepada salah seorang anaknya.
Meski terpisah oleh jarak, setidaknya seminggu sekali pak Amat selalu berhubungan dengan sang anak. Dengan ponsel bututnya, pak Amat selalu setia mendengarkan keluh-kesah anaknya yang sedang berjuang menyelesaikan studi di luar kota. Sesekali ponsel itu diserahkan kepada sang istri jika dia sudah tidak kuat lagi menahan perasaan mendengar suara didalam ponsel tersebut.
Bekerja sebagai guru disalah satu SMP Negeri pinggiran di Kalimantan Selatan, tak lantas membuat pak Amat hidup bergelimang harta. Gaji yang dipotong beberapa persen itu harus membuat istri dan ketiga orang anaknya mengikat pinggang lebih erat.
Sehari-harinya dia harus berjalan kaki mengarungi kebun karet yang cukup luas untuk menuju tempatnya mengabdi. Atau paling tidak memakai sepeda motor butut jika sang anak sedang libur sekolah. Tapi sekarang sudah mulai terobati ketika dia sudah bisa menggunakan kredit kendaraan bermotor untuk pegawai negeri.
Dia memasuki kelas dan menyampaikan pelajarannya dengan semangat. Walau dengan cara belajar klasik, para siswa menyukainya. Dia selalu bersemangat ketika bercerita tentang sejarah Indonesia, terutama tentang Soekarno dan Soeharto meskipun sejatinya dia hanyalah seorang guru PKn.
“Soeharto adalah presiden yang baik jika dia hanya menjabat 10 tahun, bahkan lebih baik dari pada presiden di era Reformasi ini” katanya.
Pernyataan-pernyataan nyelekit tentang mahasiswa juga sering dia sampaikan. Tak peduli dengan status anaknya yang sekarang juga sebagai mahasiswa.
Sebagai guru yang cukup senior, beberapa kali pak Amat ditawari menjadi kepala sekolah oleh dinas pendidikan setempat. Dengan beralasan masih ingin dekat dengan anak-anak, pak Amat dengan sopan menolak tawaran-tawaran tersebut. Menurutnya mengajar adalah jiwanya, bukan sebagai orang yang suka berurusan ke dinas pendidikan. Pak Amat juga seakan sudah tercemari oleh pemikiran-pemikiran miring tentang kepala sekolah. Dia berpendapat bahwa gaji kepala sekolah nggak akan bisa menaikkan kualitas perekonomian keluarganya. “Lha wong gaji Kepala Sekolah juga nggak terlalu tinggi kok jika dibandingkan profesi guru, kecuali dengan cara lain maka bisa saja seorang kepala sekolah menjadi Milyuner” katanya.
Pak Amat sangat menyukai jabatannya sebagai seorang pembina OSIS. Lebih dekat dengan anak-anak katanya. Dia selalu mengajarkan nilai-nilai dalam mengatur organisasi kepada pengurus OSIS. Dia selalu ikut membuat anggaran dana dengan secermat-cermatnya. Jika ada sisa uang berlebih, dia akan menggunakannya untuk sesuatu yang berguna bagi penduduk sekolah itu atau membagikannya kepada para penjaga sekolah.
| Sosok seorang Ahmad Radiani (Pak Amat) |
Sedikit menyebalkan memang, bahkan dia sangat menyebalkan. Dia keras kepala dan nggak bisa dinasehati. Apa yang ia yakini sangat sulit untuk digoyahkan. Prinsipnya tertancap jauh dilubuk hati dan dia bisa bertahan dengan itu.
Aku selalu suka mendengar cerita hidupnya. Cerita saat dia menjadi gembala ternak. Cerita saat dia selalu dimarahi orang sekampung termasuk bakal mertuanya karena ulah sapi yang ia gembala. Cerita perjuangannya berpindah-pindah tempat dan orang tua angkat hanya untuk melanjutkan sekolah. Cerita tentang pengalamannya di kota Jakarta. Begitu banyak cerita dan dengan sukarela ia membaginya.
Karena dialah aku bercita-cita menjadi seorang guru. Karenanya sekarang aku berkuliah disini, di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dan sekarang aku sangat ingin menjadi seperti dia, guru luar biasa yang sederhana dan anti korupsi sebenarnya.
Dan aku sangat bangga ketika menyebut dia “Ayah”
Semoga artikel ini bermanfaat. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.teropongku.com/2012/11/sosok-pak-amat.html. Terima kasih telah membaca artikel ini.



Close
Wah, hebat juga ya ada guru yg menolak jadi kepala sekolah. .
BalasHapusbegitulah
Hapusbenarkah ini sosok ayah..?
BalasHapushmm.. sebuah ide yang simple, dekat, namun mengena bagi kami pembaca yang lain.. :)
memang saya cerita apa adanya. ini bukan sebuah prosa sastrawi atau puitis. semuanya mengalir begitu aja dengan sederhana
Hapuslagi, mampir sob.. :D ngunjungin blogger satu daerah.. :D hehehe
BalasHapusasal jangan jara haja lah . . .
Hapussosok yang bersahaja, semoga sukses sob:}
BalasHapusamiin
Hapuswahh ini luar biasa...
BalasHapusjadi pengen punya abah kaya ini :'(
Syukuri apa yang ada aja. Pasti ada banyak kekurangan dan kelebihan yang dimiliki seorang ayah, dan memang itulah ayah terbaik yang kita punya
Hapuswah ini cerita tentang keluarga ente ya gan. ehm... mantap sekali beliau emang, semangat dekat dengan anak anak untuk menularkan kebaikan itu yang patut di acungkan jempol. HEm... bangga punya ayah seperti itu. semoga menang juga kontesnya, biar bisa bangga pada ayah.
BalasHapusamiin
Hapushebat gan, saya juga seorang guru, tapi belum bisa bersikap sperti ayah agan...
BalasHapusSuatu saat nanti pasti bisa
HapusWahh.. Sungguh bangga di negara kita ini masih memiliki sosok guru seperti pak amat :) . Semoga tetap sukses dan selalu bisa menjadi panutan bagi siapapun. :)
BalasHapusAmiin
HapusSaya dulunya Pernah Menjadi Guru juga selama 2 Tahun...
BalasHapusTapi Bukan PNS Gan... Guru Honorer... Mengajar Kimia dan Fisika di SMA dan Matematika di SMP... Karena Honor yg saya terima tidak bisa menghidupi kebutuhan keluarga. Maka saya putuskan untuk menerima tawaran Pekerjaan dari Perusahaan Swasta... Sejujurnya saya masih kepengen menjadi Guru... Apalagi menyempaikan Mapel Kimia dan Fisika yg menurut Sebagian Besar Murid merupakan Mapel yg sulit... Tapi selama saya menyampaiakan materi saya tidak mendapatkan indikasi kalau mereka mengalami kesulitan dalam proses belajar... Nilai evaluasinya bagus... Sekarang saya bekerja sebagai konsultan Pendidikan dan melakukan monitoring terhadap penyerapan dan Penggunaan Anggaran yg bersumber dari APBN...
Tidak banyak Kepala Sekolah dan Guru yg mirip dengan Sosok Pak Amat... Sebagian Besar Kepala Sekolah yg saya temui dan dampingi hanya memikirkan prifit bukan pada proses, kualitas dan manfaat... Misalnya dalam Pengadaan barang dan jasa, yg jadi pertimbangan mereka berapa persen dia dapat dari Distributor, bukannya berapa banyak dan bagus barang yg harus dia (Sekolah) dapatkan dari anggaran Negara.
Dengan Membaca Cerita seperti Sosok Pak Amat... Saya jadi kepengen mendirikan sekolah dan ikut terlibat didalamnya... Selamat buat Arif Putra yg memiliki sosok Ayah Seperti Pak Amat. Negeri ini sudah langka orang2 seperti pak Amat... Semoga kita memperoleh manfaat dari kisah ini
iya, alhamdulillah. Banyak kekurangannya memang, tapi kelebihan beliau patut diapresiasi.
Hapuspostingan yang menyetuh, mantap..
BalasHapuswah om royan ada dimari jua.. hehehehe
BalasHapusmantaf salut dua jempol. (y) (y)
BalasHapusGreat..!!
BalasHapusAku suka banget.. :)