Sosok Pak Amat

Category : Kisah, Pengalaman
Sosok Pak Amatby arief16on.Sosok Pak Amat“Jangan terus-terusan mengeluh, kuliah aja yang bener. Masalah biaya jangan terlalu dipusingkan. Orang tuamu tentu nggak akan membiakanmu kelaparan. Intinya syukurin aja apa yang kamu punya, entar Tuhanmulah yang akan ngebantu, asal kamu yakin aja” kata pak Amat kepada salah seorang anaknya. Meski terpisah oleh jarak, setidaknya seminggu sekali pak Amat selalu berhubungan dengan sang […]

“Jangan terus-terusan mengeluh, kuliah aja yang bener. Masalah biaya jangan terlalu dipusingkan. Orang tuamu tentu nggak akan membiakanmu kelaparan. Intinya syukurin aja apa yang kamu punya, entar Tuhanmulah yang akan ngebantu, asal kamu yakin aja” kata pak Amat kepada salah seorang anaknya.


Meski terpisah oleh jarak, setidaknya seminggu sekali pak Amat selalu berhubungan dengan sang anak. Dengan ponsel bututnya, pak Amat selalu setia mendengarkan keluh-kesah anaknya yang sedang berjuang menyelesaikan studi di luar kota. Sesekali ponsel itu diserahkan kepada sang istri jika dia sudah tidak kuat lagi menahan perasaan mendengar suara didalam ponsel tersebut.

Bekerja sebagai guru disalah satu SMP Negeri pinggiran di Kalimantan Selatan, tak lantas membuat pak Amat hidup bergelimang harta. Gaji yang dipotong beberapa persen itu harus membuat istri dan ketiga orang anaknya mengikat pinggang lebih erat.

Sehari-harinya dia harus berjalan kaki mengarungi kebun karet yang cukup luas untuk menuju tempatnya mengabdi. Atau paling tidak memakai sepeda motor butut jika sang anak sedang libur sekolah. Tapi sekarang sudah mulai terobati ketika dia sudah bisa menggunakan kredit kendaraan bermotor untuk pegawai negeri.

Dia memasuki kelas dan menyampaikan pelajarannya dengan semangat. Walau dengan cara belajar klasik, para siswa menyukainya. Dia selalu bersemangat ketika bercerita tentang sejarah Indonesia, terutama tentang Soekarno dan Soeharto meskipun sejatinya dia hanyalah seorang guru PKn.

“Soeharto adalah presiden yang baik jika dia hanya menjabat 10 tahun, bahkan lebih baik dari pada presiden di era Reformasi ini” katanya.

Pernyataan-pernyataan nyelekit tentang mahasiswa juga sering dia sampaikan. Tak peduli dengan status anaknya yang sekarang juga sebagai mahasiswa.

Sebagai guru yang cukup senior, beberapa kali pak Amat ditawari menjadi kepala sekolah oleh dinas pendidikan setempat. Dengan beralasan masih ingin dekat dengan anak-anak, pak Amat dengan sopan menolak tawaran-tawaran tersebut. Menurutnya mengajar adalah jiwanya, bukan sebagai orang yang suka berurusan ke dinas pendidikan. Pak Amat juga seakan sudah tercemari oleh pemikiran-pemikiran miring tentang kepala sekolah. Dia berpendapat bahwa gaji kepala sekolah nggak akan bisa menaikkan kualitas perekonomian keluarganya. “Lha wong gaji Kepala Sekolah juga nggak terlalu tinggi kok jika dibandingkan profesi guru, kecuali dengan cara lain maka bisa saja seorang kepala sekolah menjadi Milyuner” katanya.

Pak Amat sangat menyukai jabatannya sebagai seorang pembina OSIS. Lebih dekat dengan anak-anak katanya. Dia selalu mengajarkan nilai-nilai dalam mengatur organisasi kepada pengurus OSIS. Dia selalu ikut membuat anggaran dana dengan secermat-cermatnya. Jika ada sisa uang berlebih, dia akan menggunakannya untuk sesuatu yang berguna bagi penduduk sekolah itu atau membagikannya kepada para penjaga sekolah.

IMG 5494, Sosok Pak Amat, sosok guru
Sosok seorang Ahmad Radiani (Pak Amat)

Dia adalah seseorang yang sangat taat dalam peraturan, siapapun pembuatnya. Baginya peraturan itu dibuat untuk melindungi penggunanya, bukan malah untuk dilanggar. Dia tidak pernah ingin membuat susah orang-orang disekitarnya, (kecuali aku) bahkan untuk orang yang tidak ia kenal.

Sedikit menyebalkan memang, bahkan dia sangat menyebalkan. Dia keras kepala dan nggak bisa dinasehati. Apa yang ia yakini sangat sulit untuk digoyahkan. Prinsipnya tertancap jauh dilubuk hati dan dia bisa bertahan dengan itu.

Aku selalu suka mendengar cerita hidupnya. Cerita saat dia menjadi gembala ternak. Cerita saat dia selalu dimarahi orang sekampung termasuk bakal mertuanya karena ulah sapi yang ia gembala. Cerita perjuangannya berpindah-pindah tempat dan orang tua angkat hanya untuk melanjutkan sekolah. Cerita tentang pengalamannya di kota Jakarta. Begitu banyak cerita dan dengan sukarela ia membaginya.

Karena dialah aku bercita-cita menjadi seorang guru. Karenanya sekarang aku berkuliah disini, di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dan sekarang aku sangat ingin menjadi seperti dia, guru luar biasa yang sederhana dan anti korupsi sebenarnya.

Dan aku sangat bangga ketika menyebut dia “Ayah”

Related Posts

Leave a Reply