Catatan Kecil Bersama @arsyilrahman

Category : Pengalaman
Catatan Kecil Bersama @arsyilrahmanby arief16on.Catatan Kecil Bersama @arsyilrahmanDalam hati yang terus menggerutu, ah biasa saja pikirku. Menatap jauh menuju layar, semuanya hanya putih, meski tak seputih awan yang kulihat tadi pagi. Sesekali layar itu menampilkan sosok seorang lelaki ganteng, dan seisi ruangan menjadi gemuruh yang sulit untuk dibendung. Sosok itu katanya merupakan sosok idaman para wanita, dia tampan, pinter, shaleh, pekera keras, […]

Dalam hati yang terus menggerutu, ah biasa saja pikirku. Menatap jauh menuju layar, semuanya hanya putih, meski tak seputih awan yang kulihat tadi pagi. Sesekali layar itu menampilkan sosok seorang lelaki ganteng, dan seisi ruangan menjadi gemuruh yang sulit untuk dibendung. Sosok itu katanya merupakan sosok idaman para wanita, dia tampan, pinter, shaleh, pekera keras, multi tallent lagi. “Habis pamorku disini” kata salah seorang cowok yang kebetulan berada persis di kananku. Aku hanya mengangguk, tanpa menjawab sepatah kata pun.

Ya memang tak bisa dipungkiri jika lelaki ini memang-benar-benar ganteng, namun perlu diketahui bahwa aku sama sekali tidak mengidolakannya. Aku bukanlah seperti ibu-ibu yang rela berjam-jam duduk menanti sebuah sinetron yang mereka suka. Terkadang bukanlah cerita sinetron itu yang ditunggu, melainkan pemerannya. Aku sendiri hanya duduk disini mewakili ‘teman wanita’ ku yang tak bisa berhadir. Sempat kesal juga karena dia lebih menyukai sosok yang tidak aku kenal dari pada diriku sendiri. Tapi kasihan juga dia harus pergi ke Jakarta disaat orang yang dia idolakan datang ke Banjarmasin.

Pamor itu datang.

Entah mengapa sejenak ruangan menjadi gaduh, bahkan lebih gaduh dari sebelum-sebelumnya. Aku disini hanya merasa sendiri ditengah keramaian. Kucari keberbagai pojok dimana asal gaduh itu, namun hasilnya nihil.

MC kemudian membuka secarik kertas dan mulai membacakannya: “Ini adalah email dari Andi Arsyil, dan maaf jika kabar yang saya bawa ini bukanlah kabar yang ditunggu oleh kalian semua”. Audience terhenyak sebentar sebelum kembali bergemuruh. Kuarahkan mataku ke bagian belakang dan datanglah seseorang yang luar biasa penuh wibawa. Disalaminya orang-orang yang dia lewati, terutama orang-orang yang tempat duduknya berada di samping kiri maupun kanan bagian luar serta yang berada di paling depan. Sontak ini membuat banyak orang menjadi iri dan tak terkendali.

Bisakah kamu merasakan betapa betenya aku kala itu? Duduk didalam suatu ruangan yang dipenuhi wanita-wanita liar tak terkendali. Perlu diingat bahwa jumlah lelaki dalam ruangan tersebut tak lebih dari tujuh setengah persen dari jumlah wanita keseluruhan.

Simsalabim Abakadabra.

Baru mengucap salam, audiensi kembali bergemuruh menyambut orang ini. Entahlah apa yang sedang kurasakan saat itu, namun sepertinya aku juga mengalami euforia. Aku seakan terjangkit orang-orang disekitarku. Aku mulai menyukai sosok lelaki tersebut, dan jangan salah persepsi terhadap rasa suka tersebut.

Ada sebuah peraturan yang entah mengapa sedikit mengeluarkan semangatku. Padahal kalau dipikir-pikir hal itu biasa saja, tidak akan pernah banyak berefek pada hatiku yang memang sebelumnya gundah gulana. “Ketika saya bilang Simsalabim, anda harus tersenyum manis dan saat saya bilang Abakadabra anda harus tersenyum lepas. Dan sekarang, Sim Salabim!!” aish, sulih sekali rasanya menahan senyum ini. Peraturannya ialah disaat kita tersenyum manis, tak diperbolehkan mengeluarkan gigi. Aku cukup kesulitan dan orang itu benar-benar telah membuat gairahku bangkit kembali. “Dia bukanlah orang yang sembarangan,” pikirku.

Menulis = Seni = ??

Beberapa orang peserta ditanya apa itu menulis, dan jawaban mereka beragam. Lelaki itu dengan percaya dirinya menulis adalah seni. Lalu seni itu apa? tanya beliau lagi. Jawaban kembali beragam dan menurut orang itu kembali seni merupakan keterpurukan (kayaknya itu yang dia katakan deh, gua kurang yakin). Andai microphone itu ada ditanganku mungkin secara spontan ku kata “Seni Itu Emosi” baik itu negatif maupun positif karena seni akan sampai kehati para penikmatnya jika dia menyisipkan peranan emosi didalamnya. Ini masalah hati bos, entahlah.

Hidup Tak Cukup Hanya Dengan Bakat

Hidup Tak Cukup Hanya Dengan Menggunakan Bakat, Kita perlu ikhtiar yang prima dan pertolongan dari Tuhan.” kurang lebih seperti itulah yang pertama-tama dia sampaikan. Sungguh kata-kata yang sangat memotivasi. Sering memang kudapatkan dan bukanlah suatu kata yang asing, namun seringkali aku terlupa terhadapnya.

Push (Dorong) !!!

Hal yang cukup saya ingat adalah tentang mendorong limit melebihi persepsi diri sendiri. Sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Kadang kala aku terlalu cepat menyerah dan nggak pede dengan diriku sendiri. Aku sangat sering berfikir untuk melarikan diri dari masalah. Sekali lagi, dia mengingatkanku tentang suatu hal yang sangat penting.

Dengan gemetar, kuberanikan diri untuk menganggkat tangan. Agak kesal juga karena acungan ini kuanggap tak digubris oleh moderator. Bagiku moderator hanya memperhatikan kaum hawanya saja.

Setelah beberapa pertanyaan terjawab, nampaknya pak moderator harus mempersilahkan kaum minoritas untuk menampakkan suaranya. Pertanyaan sederhana sebenarnya, namun karena emosiku yang cukup meluap, akhirnya pertanyaan tersebut seakan menjadi ajang curhat colongan. Salah memang karena tak seharusnya menampakkan masalah didalam forum terbuka. Sebenarnya inti pertanyaan itu adalah “Bagaimana cara agar kita bisa mendorong diri melebihi limit persepsi diri sendiri?” itu saja.

Dan yang sedikit menggelitik kepalaku alahah ketika aku bertanya, dia bertanya balik kepadaku. “Pasti anda seang galau.” Cetusnya. “Sedikit” kataku mengelak, walau sebenarnya memang saat itu aku sedang depresi berat. Emangnya dari wajahku memperlihatkan kegalauan ya?

Aku, Dia, dan Gita Gutawa.

Dia menanggapi pertanyaan itu dengan sebuah kisah, kisah tentang hidupnya. Dia dilahirkan didalam keluarga yang sebenarnya berkecukupan. Dia pun kemudian memeberanikan diri untuk menimba ilmu di 3 Universitas berbeda, yakni dalam bidang Ekonomi, Teknologi Informatika, dan Fisika. Suatu ketika, ayahnya bangkrut dan dia harus menanggung biaya ketiga universitas tersebut. Dari situlah dia mulai mencari penghasilan sendiri seperti menjadi salesman dan lainnya. Diapun kemudian lulus di dua buah kampus dengan nilai yang sangat memuaskan dan karenanya dia langsung diminta menjadi dosen pada salah satu dari kedua Universitas tersebut.

Aku sendiri merupakan seorang mahasiswa yang juga terdampar di bidang Fisika. Ayahku juga sangat mendukungku untuk menjadi seorang pendidik di bidang itu, walau harus diakui bahwa aku tak terlalu menyukai fisika. Aku lebih tertarik dengan dunia jurnalistik dan sastrawi, namun demi kebahagiaan orang tua, aku selalu berusaha untuk secepatnya lulus dari sini.Dan tak bisa dipungkiri, aku tertatih disini.

Tentu ini mengingatkanku kepada sebuah kisah dari seorang Gita Gutawa, seorang artis yang sekarang menempuh pendidikannya di Birmingham University. Seorang artis yang mempunyai segudang kesibukan, namun nilai sekolahnya begitu memuaskan dan menjadi salah satu dari lulusan terbaik di sekolah yang sangat terkenal di Ibukota.

Yang kukagumi dari keduannya adalah kemampuan mereka untuk berada diberbagai dunia yang berlainan. Orang itu mampu berkuliah di 3 Universitas berbeda dengan jurusan yang bertolak belakang, kemudian menjadi pemain sinetron yang mungkin setiap waktunya banyak dihabiskan dilokasi syuting, dilanjutkan dengan menjalani hari-harinya sibuknya seperti ngantor dan kuliah di program S2. Orang tersebut juga dapat menerbitkan sebuah buku dalam kurun waktu satu tahun, luar biasa.

Gita Gutawa pun demikian. Dia pernah mewakili Jakarta dalm olimpiade Biologi, nilai fisika dan matematikanya bagus, Mengharumkan nama Indonesia dalam kompetisi menyanyi di luar negeri, menulis sebuah buku biografi, menggelar konser tunggal, menjadi penyanyi professional dan sekarang malah melanjutkan studinya keperguruan tinggi di luar negeri dengan mengambil jurusan Ekonomi, salah satu dari cabang ilmu sosial.

Dialah Andi Arsyil

Orang yang dikenal karena aktingnya di film Ketika Cinta Bertasbih dan Sinetron Tukang Bubur Naik Haji ini berkunjung ke Banjarmasin untuk menjadi pemateri di sebuah pelatihan kepenulisan dan motivasi. Selain hebat dibidang seni peran, nyatanya Arsyil memiliki kecerdasan karena bisa menempuh studi di 3 Kampus berbeda dan dua diantaranya berhasil diselesaikan dengan nilai yang sangat membanggakan. Dalam 3 tahun terakhir juga Arsyil aktif menulis buku dan buku-bukunya telah terbit dalam waktu setahun sekali. Kini Andi Arsyil telah menelurkan 3 buah buku yang berjudul ‘Life Is Miracle, Ureacle, dan Hope. Ketiga buku tersebut merupakan buku yang bertemakan motivasi hidup untuk para pembacanya.

Pertanyaan Singkat Kepada Bang Arsyil

Kapan Biografi abang dibukukan? Saya sangat tertarik dengan kisah hidup seorang Andi Arsyil karena keadaannya memang cukup mirip dengan hidup saya. Semoga kisah abang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Dan juga, bagaimana sih caranya untuk bisa menyukai Fisika?

Me With Andi Arsyil

IMG00018 20121209 1237, Catatan Kecil Bersama @arsyilrahman, andi arsyil

me+and+andi1, Catatan Kecil Bersama @arsyilrahman, andi arsyil

me+and+andy1, Catatan Kecil Bersama @arsyilrahman, andi arsyil

Silahkan klik gambar untuk memperbesar. Diharapkan yang lain jangan pada ngiri sama saya ya…. kalo ketemu saya mohon disapa, jangan malah ditimpukin karena dia.

Kalo suka artikel ini, mohon pencet tombol like dibawah ya. Ato follow twitter @ariefputera agar kita bisa saling akrab dan kamu bisa mendapatkan pembaruan dari blog sederhana ini.


andi arsyil rahman putra dan keluargaandi arsyil rahman putra dan pacarnyaandi arsyil dosenandi arsyilpacar andi arsyil rahman putrakabar sekarang andi arsyil@arsyilrahmankisah hidup andi arsyilkehidupan artis andi arsyilPacar andi arsyil -

Related Posts

Leave a Reply