Motivasi Dari Karedok

Sabtu, 19 Januari 2013. | Curhat, Kisah, Opini

Seperti biasa ketika semuanya terasa begitu berat, ku pacu kendaraan butut ini melintasi jalanan. Blusukan keberbagai pojok kota demi mendamaikan suasana hati. Tak bisa sepenuhnya mengatasi masalahku memang, tapi setidaknya ini bisa menguatkan.

Perjalananku terhenti disebuah kios, atau bisa juga disebut gerobak kaki lima yang kali ini menjual sebuah penganan asing di lidahku, tapi cukup sering kudengar namanya. Karedok, itulah yang dijual seorang bapak yang berada dibalik gerobak kecil terparkir di depan kios kecil tersebut.

Karedok. Meski banyak orang yang nyebut saya bodoh karena rela ninggalin perusahaan untuk jualan karedok, tapi nggak terlalu buruk. Bukankah yang saya bilang tadi bahwa nggak selamanya yang terlihat oleh mata itu merupakan sesuatu yang benar-benar terjadi. Doakan aja mas semoga saya bisa membangun sebuah Restoran Sunda di tanah ini. Saya lihat nggak ada tuh Restoran sunda di Banjarmasin. Selain itu saya ingin lebih memperkenalkan budaya saya lewat Restoran tersebut karena saya bangga dengan itu.” Kata pedagang itu dengan percaya dirinya.

Sontak saya terdiam dengan jawaban tersebut. Saya teringat tentang hati saya yang terlalu sakit ketika menerima kenyataan bahwa nilai saya anjlok pada semester ini. Padahal semua itu hanya sebuah penilaian subyektif, bukan sebuah jaminan kesuksesan. Nilai-nilai ini terlihat buruk jika dilihat dari mata, tapi belum tentu merupakan sesuatu yang buruk. Saya malu dengan pedagang ini karena ia dapat meninggalkan posisi nyamannya demi sesuatu yang dia impikan. Sedangkan saya, hanya bisa mengeluh dengan berkutat didalam masalah. Saya mulai berfikir tentang sesuatu yang benar-benar saya cintai dan sesuatu yang saya ‘kawini’.

“Saya juga punya cita-cita membuat Budaya Banjar Go Nasional mas, bahkan Go Internasional. Terutama untuk kain sasirangan” Tutupku.

“Semoga berhasil kang, percaya aja Tuhan bersama kita. Dia nggak akan meninggalkan kita dalam keadaan apapun, bahkan ketika sahabat terbaik tak mampu lagi menemani.” Tanggapnya.

Tak terasa karedok di piring beralas daun pisang ini habis ku lahap.

“Berapa mas?”

“Lima ribu”

Kuserahkan uang pas lima ribuan. Kupacu kembali sepeda motor butut itu meninggalkan gerobak karedok tersebut.

Setidaknya aku sedikit mendapat beberapa pelajaran dari seorang pedagang karedok. Tak perlu melihat siapa dan memakai apa untuk mengambil sebuah pelajaran karena dari seorang pedagang karedok pun kita bisa mendapatkannya. Dan kutipan yang paling saya ingat adalah,

“Jangan terlalu menuruti apa kata mata karena apa yang terlihat itu belum tentu menggambarkan apa ang sesungguhnya terjadi”

Komentarmu?