Seperti biasa ketika semuanya terasa begitu berat, ku pacu kendaraan butut ini melintasi jalanan. Blusukan keberbagai pojok kota demi mendamaikan suasana hati. Tak bisa sepenuhnya mengatasi masalahku memang, tapi setidaknya ini bisa menguatkan.
Perjalananku terhenti disebuah kios, atau bisa juga disebut gerobak kaki lima yang kali ini menjual sebuah penganan asing di lidahku, tapi cukup sering kudengar namanya. Karedok, itulah yang dijual seorang bapak yang berada dibalik gerobak kecil terparkir di depan kios kecil tersebut.
“Karedok mas, satu porsi makan disini” pesanku demi mengobati penasaran pada makanan tersebut. Baru saja mas-mas tersebut menyiapkan makanannya, aku sudah merasa tidak tertarik dengan makanan ini. Meski terbalut dengan sambal kacang yang notabenenya salah satu sambal favoritku, ternyata karedok disajikan dengan menggunakan sayur mayur yang nggak dimasak. Meski kata si penjual bahwa sayur mayur yang digunakan adalah sayur mayur segar, tetap saja hatiku ragu untuk mencicipinya.
“ah, mubazir nih kalo nggak dimakan. Lha wong sudah terlanjur dipesan” gumamku dalam hati. Ku ambil sedikit bagian sisi sajian, berharap semoga rasanya tak sesuai dengan perkiraan. Satu jenis sayuran entah apa namanya mengenai lidahku. Aneh memang rasanya, sensasi pahit bercampur rasa kacang. Tak begitu buruk pikirku.
“Gimana kang karedoknya? Enak” kata penjual itu.
“Lumayan” kataku.
“Tadi kelihatan dari muka akang, kaya nggak suka gitu sama karedok, ternyata doyan juga” sambungnya.
“Owh, saya emang nggak terlalu suka sama sayuran apalagi yang mentah.” Jawabku.
“Semua rasa itu tergantung hati, kalo hati akang udah suudzan aja, ya semuanya terasa buruk. Jangan terlalu menuruti apa kata mata karena apa yang terlihat itu belum tentu menggambarkan apa ang sesungguhnya terjadi.” Kata penjual itu sambil tersenyum.
Super sekali kata-kata motivasi yang diberikan tukang karedok ini, nggak kalah deh sama om Mario Teguh.
“Karedok ini berasal dari daerah mana sih mas ?” tanyaku penasaran.
“Sunda kang, saya juga aseli Sunda loh, hehe.” Jawab si pedagang.
“Sudah lama di Kalimantan?” tanyaku lagi.
“Dari tahun 2004, tapi jualan Karedoknya baru 3 bulan.” Jawabnya.
“Sebelumnya kerja apaan?”
“Di perusahaan, cukup besar. Tapi saat itu saya mengundurkan diri dan memutuskan untuk jualan karedok aja”
“Kenapa mas? Gajinya kurang ya? Dari karedok sendiri dapat penghasilan berapa?”
“Ini bukan masalah Gaji mas, tapi masalah hati. Saya kurang srek aja kerja diperusahaan. Saya sudah jatuh cinta sama masakan Sunda, salah satunya ya Karedok. Meski banyak orang yang nyebut saya bodoh karena rela ninggalin perusahaan untuk jualan karedok, tapi nggak terlalu buruk. Bukankah yang saya bilang tadi bahwa nggak selamanya yang terlihat oleh mata itu merupakan sesuatu yang benar-benar terjadi. Doakan aja mas semoga saya bisa membangun sebuah Restoran Sunda di tanah ini. Saya lihat nggak ada tuh Restoran sunda di Banjarmasin. Selain itu saya ingin lebih memperkenalkan budaya saya lewat Restoran tersebut karena saya bangga dengan itu.” Kata pedagang itu dengan percaya dirinya.
Sontak saya terdiam dengan jawaban tersebut. Saya teringat tentang hati saya yang terlalu sakit ketika menerima kenyataan bahwa nilai saya anjlok pada semester ini. Padahal semua itu hanya sebuah penilaian subyektif, bukan sebuah jaminan kesuksesan. Nilai-nilai ini terlihat buruk jika dilihat dari mata, tapi belum tentu merupakan sesuatu yang buruk. Saya malu dengan pedagang ini karena ia dapat meninggalkan posisi nyamannya demi sesuatu yang dia impikan. Sedangkan saya, hanya bisa mengeluh dengan berkutat didalam masalah. Saya mulai berfikir tentang sesuatu yang benar-benar saya cintai dan sesuatu yang saya ‘kawini’.
“Saya juga punya cita-cita membuat Budaya Banjar Go Nasional mas, bahkan Go Internasional. Terutama untuk kain sasirangan” Tutupku.
“Semoga berhasil kang, percaya aja Tuhan bersama kita. Dia nggak akan meninggalkan kita dalam keadaan apapun, bahkan ketika sahabat terbaik tak mampu lagi menemani.” Tanggapnya.
Tak terasa karedok di piring beralas daun pisang ini habis ku lahap.
“Berapa mas?”
“Lima ribu”
Kuserahkan uang pas lima ribuan. Kupacu kembali sepeda motor butut itu meninggalkan gerobak karedok tersebut.
Setidaknya aku sedikit mendapat beberapa pelajaran dari seorang pedagang karedok. Tak perlu melihat siapa dan memakai apa untuk mengambil sebuah pelajaran karena dari seorang pedagang karedok pun kita bisa mendapatkannya. Dan kutipan yang paling saya ingat adalah,
Semoga artikel ini bermanfaat. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.teropongku.com/2013/01/motivasi-dari-karedok.html. Terima kasih telah membaca artikel ini.
Perjalananku terhenti disebuah kios, atau bisa juga disebut gerobak kaki lima yang kali ini menjual sebuah penganan asing di lidahku, tapi cukup sering kudengar namanya. Karedok, itulah yang dijual seorang bapak yang berada dibalik gerobak kecil terparkir di depan kios kecil tersebut.
![]() |
| Penampakan Karedok |
“ah, mubazir nih kalo nggak dimakan. Lha wong sudah terlanjur dipesan” gumamku dalam hati. Ku ambil sedikit bagian sisi sajian, berharap semoga rasanya tak sesuai dengan perkiraan. Satu jenis sayuran entah apa namanya mengenai lidahku. Aneh memang rasanya, sensasi pahit bercampur rasa kacang. Tak begitu buruk pikirku.
“Gimana kang karedoknya? Enak” kata penjual itu.
“Lumayan” kataku.
“Tadi kelihatan dari muka akang, kaya nggak suka gitu sama karedok, ternyata doyan juga” sambungnya.
“Owh, saya emang nggak terlalu suka sama sayuran apalagi yang mentah.” Jawabku.
“Semua rasa itu tergantung hati, kalo hati akang udah suudzan aja, ya semuanya terasa buruk. Jangan terlalu menuruti apa kata mata karena apa yang terlihat itu belum tentu menggambarkan apa ang sesungguhnya terjadi.” Kata penjual itu sambil tersenyum.
Super sekali kata-kata motivasi yang diberikan tukang karedok ini, nggak kalah deh sama om Mario Teguh.
“Karedok ini berasal dari daerah mana sih mas ?” tanyaku penasaran.
“Sunda kang, saya juga aseli Sunda loh, hehe.” Jawab si pedagang.
“Sudah lama di Kalimantan?” tanyaku lagi.
“Dari tahun 2004, tapi jualan Karedoknya baru 3 bulan.” Jawabnya.
“Sebelumnya kerja apaan?”
“Di perusahaan, cukup besar. Tapi saat itu saya mengundurkan diri dan memutuskan untuk jualan karedok aja”
“Kenapa mas? Gajinya kurang ya? Dari karedok sendiri dapat penghasilan berapa?”
“Ini bukan masalah Gaji mas, tapi masalah hati. Saya kurang srek aja kerja diperusahaan. Saya sudah jatuh cinta sama masakan Sunda, salah satunya ya Karedok. Meski banyak orang yang nyebut saya bodoh karena rela ninggalin perusahaan untuk jualan karedok, tapi nggak terlalu buruk. Bukankah yang saya bilang tadi bahwa nggak selamanya yang terlihat oleh mata itu merupakan sesuatu yang benar-benar terjadi. Doakan aja mas semoga saya bisa membangun sebuah Restoran Sunda di tanah ini. Saya lihat nggak ada tuh Restoran sunda di Banjarmasin. Selain itu saya ingin lebih memperkenalkan budaya saya lewat Restoran tersebut karena saya bangga dengan itu.” Kata pedagang itu dengan percaya dirinya.
Sontak saya terdiam dengan jawaban tersebut. Saya teringat tentang hati saya yang terlalu sakit ketika menerima kenyataan bahwa nilai saya anjlok pada semester ini. Padahal semua itu hanya sebuah penilaian subyektif, bukan sebuah jaminan kesuksesan. Nilai-nilai ini terlihat buruk jika dilihat dari mata, tapi belum tentu merupakan sesuatu yang buruk. Saya malu dengan pedagang ini karena ia dapat meninggalkan posisi nyamannya demi sesuatu yang dia impikan. Sedangkan saya, hanya bisa mengeluh dengan berkutat didalam masalah. Saya mulai berfikir tentang sesuatu yang benar-benar saya cintai dan sesuatu yang saya ‘kawini’.
“Saya juga punya cita-cita membuat Budaya Banjar Go Nasional mas, bahkan Go Internasional. Terutama untuk kain sasirangan” Tutupku.
“Semoga berhasil kang, percaya aja Tuhan bersama kita. Dia nggak akan meninggalkan kita dalam keadaan apapun, bahkan ketika sahabat terbaik tak mampu lagi menemani.” Tanggapnya.
Tak terasa karedok di piring beralas daun pisang ini habis ku lahap.
“Berapa mas?”
“Lima ribu”
Kuserahkan uang pas lima ribuan. Kupacu kembali sepeda motor butut itu meninggalkan gerobak karedok tersebut.
Setidaknya aku sedikit mendapat beberapa pelajaran dari seorang pedagang karedok. Tak perlu melihat siapa dan memakai apa untuk mengambil sebuah pelajaran karena dari seorang pedagang karedok pun kita bisa mendapatkannya. Dan kutipan yang paling saya ingat adalah,
“Jangan terlalu menuruti apa kata mata karena apa yang terlihat itu belum tentu menggambarkan apa ang sesungguhnya terjadi”
Semoga artikel ini bermanfaat. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.teropongku.com/2013/01/motivasi-dari-karedok.html. Terima kasih telah membaca artikel ini.




Close
dan hargailah jerih payah orang lain, dibanding harus mengeluh :)
BalasHapusYup, mengeluh ataupun nggak, sama saja hasilnya. Toh udah kejadian kan
Hapuswuaaaa. pelajaran yang berharga banget. makasiiy uda disharing.>.<
BalasHapusSama2 :)
HapusWah, benar2 keren ceritanya sob. . .
BalasHapusAlhamdulillah
Hapussiippp motivasi yang sungguh menyentuh hati sobat. cukup ringan tapi pesannya tersampaikan... goodluck sobat, semoga nilai semesternya bisa bagus lagi hehehehehe
BalasHapusYup, amiin . . .
HapusHebat Mas semua mengikuti kata hti,gara-gara karedok jadi pindah kerja ya Mas.Salut Mas.
BalasHapusSebenernya gara2 cinta budaya sunda sih mas,,
Hapussebuah hikmah untuk hidup, memang perlu adanya kejadian dulu baru ada hikmahnya ya mas
BalasHapusYup, alhamdulillah ya . . .
Hapus"Semua rasa itu tergantung hati, kalo hati akang udah suudzan aja, ya semuanya terasa buruk".
BalasHapussangat super sekali kata-katanya kang.
akang penjual keredok itu pasti hatinya emang srek dengan menjadi seorang pengusaha, jadi mending jualan dari pada jadi karyawan.(mending jadi kepala dari pada ekor)..
makasih kang udah berbagi pengalaman yang super bgt..mantab :)
Sama2 :).
Hapusbisa juga sih kayak begitu, si akang kayaknya nggak betah jadi anak buah
apalagi mata nakal ya Mas..
BalasHapuskalo diikuti, pasti bakalan kecewa tok wae, hehe
Nah lo . . .
HapusKriteria mata nakal itu kayak gimana?
sayurnya sudah dicuci belum? *ikutan suudzon :D
BalasHapusNggak sempet nanya . .
Hapusiya betul tu mas,...
BalasHapusrasakan dulu,
baru bisa beri komentar,..
:)
Yup,
Hapuspejual karedok yang bijak. yang semua terlihat, tidak mesti seburuk yang di terlihat. ehm... mantap juga tu si penjual. besok mampir lagi ya kang.
BalasHapusInsya Allah . . .
Hapuskaredok itu enaaak
BalasHapussaya tau . . .
HapusSalam,
BalasHapusKaredok itu banyak ragamnya. Tapi karedok itu salad sayur orang Sunda berbumbu kacang. Boleh kok bumbunya apa aja, yang penting halal dan sehat, kan budaya nusantara itu adaptif. Oya, karedok itu pasti sayurnya mentah. Kalo sayurnya dah matang dan berbumbu kacang juga, namanya lotek. Satu lagi, karedok, lotek salah dua makanan Sunda yang namanya tidak disingkat. Sekilas info, contoh nama makanan Sunda yang disingkat; Nasi T.O (tutug oncom), cireng (aci/tapioka digoreng), cilok (aci dicolok/ditusuk), cimol (aci dikemol), comro (oncom dijero/di dalam), misro (amis/manis/gula merah dijero), gehu(toge tahu), cipe (aci tempe), sukro (suuk/kacang tanah dijero), rengkol [bala-bala] (goreng engkol), pisgor (pisang goreng), colenak ([tape/peuyeum] dicocol enak), dll.
Maaf kalo ngelantur... terima kasih.
Makasih sharenya, . . . :)
Hapusbijak sekali gan kata2 pedagang karedok itu yaa
BalasHapusmenyentuh gan motivasinya... thanks sudah berbagi
BalasHapus