Dan memang benar jika dikatakan bahwa saat tersulit seorang mahasiswa yang ber IP rendah adalah ketika dia melakukan konsultasi KRS kepada dosen pembimbing. Sakit memang ketika ngintip nilai-nilai mata kuliah yang terjun bebas, atau saat mengetahui kawan-kawan seperjuangan yang berhasil meraih nilai A bejibun. Tapi sensasi bertemu dosen pembimbing pas nilai carut marut itu loh, seakan ketiban durian runtuh.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kulihat masih saja mahasiswa keluar masuk ruangan dosen. Tentu dengan keperluan sama denganku, sama-sama pengen konsultasi masalah mata kuliah apa untuk semeser depan. Tak sebanyak pukul sembilan pagi memang, tapi antusiasme mahasiswa masih cukup tinggi.
Dan akhirnya tiba giliranku, tiba dimana kloter terakhir dipanggil untuk memasuki ruangan sempit itu. Bisa saja jika aku mau menyelesaikannya sebelum tengah hari, tapi aku nggak mau temen-temenku ngelihat nilai ini. Ya harus bersabar mereka semua pada balik dan sekarang yang berkeperluan konsul tinggal 5 orang termasuk aku.
Dengan agak gugup, aku ambil posisi antrian paling terakhir. Posisi paling logis jika aku ingin menghindari mereka yang bisa saja nantinya malah mengetahui nilai asli milikku.
Masalahnya sekarang, disamping kanan dosen pembimbingku ada seseorang yang sedang membuka laptop kecilnya. Dengan santai dia mengerjakan pekerjaannya meski itu diruang dosen. Dia adalah kata tingkatku, sekitar dua angkatan lebih tua. Dia berasal dari sekolah yang sama denganku.
Aku takut jika dia mengetahui isi dari kartu hasil studi yang ku bawa ini. Takut membuatnya kecewa dan dianggap mempermalukan asal sekolah kami berdua. Maklum karena didalam program studi yang aku geluti, hanya kami berdua yang berasal dari sekolah yang sama.
Keringatku menggucur, bukan karena panasnya hari itu. Tapi lebih karena pergolajan bathin yang akan kutempuh. Aku harus menghadapi dosen pembimbing dengan nilai dibawah standar, ditambah dengan keberadaan seseorang yang sedang mengetik itu.
Doa semakin deras mengalir. Dzikir seakan tak terhenti demi kelancaran urusan ini. Kulihat dia masih saja mengerjakan pekerjaannya, tak ada tanda-tanda akan berhenti.
Tinggal dua oang termasuk aku yang berkeperluan konsul. Ingin rasanya berteriak “Kak !!!! Cepet keluar dong !!! Aku nggak mau kakak tau nilai-nilaiku !!!”
Gayung pun bersambut. Entah apakah dia bisa membaca hati, yang jelas kakak itu menutup latopnya. Tak berselang lama barang-barang dimeja sudah dirapikan dan laptop itu sudah tersimpan manis didalam tas. Dia segera mendekati dosenku dan mengucapkan beberapa patah kata. Akhirnya kakak itu berpamitan dan keluar dari ruangan.
Hampir selesai konsultasi orang yang berada didepanku, ada saja mahasiswi yang nyelonong masuk. Katanya dia juga da keperluan konsultasi dan dia diperbolehkan masuk oleh penjaga didepan. Aku tahu bahwa didepan sana sudah nggak dijaga lagi karena kerumunan mahasiswa sudah terurai.
Dia cewek, cukup ember, dan gawatnya dia seangkatan denganku dan bahkan satu kelas. Ku persilahkan saja dia duluan dengan alasan “Ladies First”. Sialnya dia tak mau nurut begitu saja, katanya aku lebih lama nunggu didalam dan sudah seharusnya aku yang duluan.
Mengingat waktu yang akan terbuang akibat perdebatan kami, kuberanikan diri saja melangkah duluan dan duduk didepan dosen pembimbing. Masih saja aku khawatir kalau dia nguping pembicaraanku, tapi ya sudahlah. Semua sudah berlalu dan aku harus mempersiapkn mental dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Dosen Pembimbingku ini biasa dipanggil bu Titin. Dia hanya dosen pembimbing sementara, karena dosen pembimbingku yang sebenarnya sedang berada entah dimana. Beliau masih muda dan jiwa mudanya begitu terasa jika diajak ngobrol. Mungkin sekarang umur beliau belum nyampe kepala 3. Meski begitu, tetap saja terdapat banyak kekhawatiran karena menurut penilaianku, bu Titin agak “Kepo” daripada dosen yang lain, meski harus diakui emang lebih modis.
Ku serahkan nilai hasil dari studi semester kemarin, dan Bu Titin memang histeris kebingungan. Tentunya ini memancing orang-orang disekitar untuk mengetahui ada apa yang terjadi, dan akhirnya 5 orang ditambah aku mengetahui dengan jelas hasil studi yang selama ini aku tutup-tutupi.
“Kenapa hasilnya bisa begini? Kamu main PS terus ya?” kata bu Titin
“Nggak bu, saya nggak bisa main PS malahan?” kataku.
“Terus ini kenapa? Kamu kerja ya?” Lanjut beliau.
“Iya bu, kerja dipercetakan. Tapi ini sudah berhenti kok. Pengen fokus ke kuliah aja.” Jawabku.
“Loh, terus sekarang kamu nggak ada penghasilan lagi dong?” Tanya beliau lagi.
“Masih ada sih, sedikit dari kerjaan di Internet. Saya kan Blogger bu.” Kataku.
“Owh, begitu. Kenapa nggak masuk ke STMIK atau perguruan tinggi yang mengakomodir bakatmu.”
“Kemarin itu, budgetnya hanya cukup buat daftar SNMPTN, dan di Banjarmasin sendiri nggak ada teknik komputer atau Informatika yang tersedia disana. Jadi saya milih Fisika aja, sekalian belajar seni menikmati masalah.” Kataku.
Perlahan ketegangan yan g ku alami tadi sedikit mencair. Ternyata tidak terlalu buruk karena Bu Titin sendiri sangat mudah di ajak ngobrol.
“Bisa nggak ngebuatin blog untuk Prodi Fisika Unlam (baca: Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Lambung mangkurat)? Sekaligus jadi pengurusnya.” kata Bu Titin
“Bisa aja sih sebenarnya, tergantung dari izinnya. Setahu saya, Prodi kita udah punya blog kan?”
“Iya sih, tapi kayak mati gitu blognya. Kalo bisa sih dibikinin kayak website profesional gitu. Ntar saya urus deh izinnya, tenang aja.” Lanjut beliau
“Oke deh, Insya Allah saya bisa, hubungi aja nanti sayanya kalo ibu perlu”
“Sip, nih semuanya udah saya tanda tanganin. Saya mau istirahat dulu, kamu silahkan pulang. Jangan lupa belajar ya, jangan malu-maluin saya.” Tutup Bu Titin.
“Iya bu, makasih” tutupku, kemudian aku bersalaman dengan beliau, dengan cium tangan tentunya sebagai rasa hormat.
Beranjak aku menuju pintu keluar dan siapapun yang ku lalui akan ku salami. Dan ternyata, konsultasi itu nggak seperti yang dibayangkan kok. Malahan aku dapet Job tambahan, sebagai admin website di kampusku berkuliah.
Semoga artikel ini bermanfaat. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.teropongku.com/2013/02/di-titik-nadir.html. Terima kasih telah membaca artikel ini.
![]() |
| Gambaran IP dan SKS |
Dan akhirnya tiba giliranku, tiba dimana kloter terakhir dipanggil untuk memasuki ruangan sempit itu. Bisa saja jika aku mau menyelesaikannya sebelum tengah hari, tapi aku nggak mau temen-temenku ngelihat nilai ini. Ya harus bersabar mereka semua pada balik dan sekarang yang berkeperluan konsul tinggal 5 orang termasuk aku.
Dengan agak gugup, aku ambil posisi antrian paling terakhir. Posisi paling logis jika aku ingin menghindari mereka yang bisa saja nantinya malah mengetahui nilai asli milikku.
Masalahnya sekarang, disamping kanan dosen pembimbingku ada seseorang yang sedang membuka laptop kecilnya. Dengan santai dia mengerjakan pekerjaannya meski itu diruang dosen. Dia adalah kata tingkatku, sekitar dua angkatan lebih tua. Dia berasal dari sekolah yang sama denganku.
Aku takut jika dia mengetahui isi dari kartu hasil studi yang ku bawa ini. Takut membuatnya kecewa dan dianggap mempermalukan asal sekolah kami berdua. Maklum karena didalam program studi yang aku geluti, hanya kami berdua yang berasal dari sekolah yang sama.
Keringatku menggucur, bukan karena panasnya hari itu. Tapi lebih karena pergolajan bathin yang akan kutempuh. Aku harus menghadapi dosen pembimbing dengan nilai dibawah standar, ditambah dengan keberadaan seseorang yang sedang mengetik itu.
Doa semakin deras mengalir. Dzikir seakan tak terhenti demi kelancaran urusan ini. Kulihat dia masih saja mengerjakan pekerjaannya, tak ada tanda-tanda akan berhenti.
Tinggal dua oang termasuk aku yang berkeperluan konsul. Ingin rasanya berteriak “Kak !!!! Cepet keluar dong !!! Aku nggak mau kakak tau nilai-nilaiku !!!”
Gayung pun bersambut. Entah apakah dia bisa membaca hati, yang jelas kakak itu menutup latopnya. Tak berselang lama barang-barang dimeja sudah dirapikan dan laptop itu sudah tersimpan manis didalam tas. Dia segera mendekati dosenku dan mengucapkan beberapa patah kata. Akhirnya kakak itu berpamitan dan keluar dari ruangan.
Hampir selesai konsultasi orang yang berada didepanku, ada saja mahasiswi yang nyelonong masuk. Katanya dia juga da keperluan konsultasi dan dia diperbolehkan masuk oleh penjaga didepan. Aku tahu bahwa didepan sana sudah nggak dijaga lagi karena kerumunan mahasiswa sudah terurai.
Dia cewek, cukup ember, dan gawatnya dia seangkatan denganku dan bahkan satu kelas. Ku persilahkan saja dia duluan dengan alasan “Ladies First”. Sialnya dia tak mau nurut begitu saja, katanya aku lebih lama nunggu didalam dan sudah seharusnya aku yang duluan.
Mengingat waktu yang akan terbuang akibat perdebatan kami, kuberanikan diri saja melangkah duluan dan duduk didepan dosen pembimbing. Masih saja aku khawatir kalau dia nguping pembicaraanku, tapi ya sudahlah. Semua sudah berlalu dan aku harus mempersiapkn mental dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Dosen Pembimbingku ini biasa dipanggil bu Titin. Dia hanya dosen pembimbing sementara, karena dosen pembimbingku yang sebenarnya sedang berada entah dimana. Beliau masih muda dan jiwa mudanya begitu terasa jika diajak ngobrol. Mungkin sekarang umur beliau belum nyampe kepala 3. Meski begitu, tetap saja terdapat banyak kekhawatiran karena menurut penilaianku, bu Titin agak “Kepo” daripada dosen yang lain, meski harus diakui emang lebih modis.
Ku serahkan nilai hasil dari studi semester kemarin, dan Bu Titin memang histeris kebingungan. Tentunya ini memancing orang-orang disekitar untuk mengetahui ada apa yang terjadi, dan akhirnya 5 orang ditambah aku mengetahui dengan jelas hasil studi yang selama ini aku tutup-tutupi.
“Kenapa hasilnya bisa begini? Kamu main PS terus ya?” kata bu Titin
“Nggak bu, saya nggak bisa main PS malahan?” kataku.
“Terus ini kenapa? Kamu kerja ya?” Lanjut beliau.
“Iya bu, kerja dipercetakan. Tapi ini sudah berhenti kok. Pengen fokus ke kuliah aja.” Jawabku.
“Loh, terus sekarang kamu nggak ada penghasilan lagi dong?” Tanya beliau lagi.
“Masih ada sih, sedikit dari kerjaan di Internet. Saya kan Blogger bu.” Kataku.
“Owh, begitu. Kenapa nggak masuk ke STMIK atau perguruan tinggi yang mengakomodir bakatmu.”
“Kemarin itu, budgetnya hanya cukup buat daftar SNMPTN, dan di Banjarmasin sendiri nggak ada teknik komputer atau Informatika yang tersedia disana. Jadi saya milih Fisika aja, sekalian belajar seni menikmati masalah.” Kataku.
Perlahan ketegangan yan g ku alami tadi sedikit mencair. Ternyata tidak terlalu buruk karena Bu Titin sendiri sangat mudah di ajak ngobrol.
“Bisa nggak ngebuatin blog untuk Prodi Fisika Unlam (baca: Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Lambung mangkurat)? Sekaligus jadi pengurusnya.” kata Bu Titin
“Bisa aja sih sebenarnya, tergantung dari izinnya. Setahu saya, Prodi kita udah punya blog kan?”
“Iya sih, tapi kayak mati gitu blognya. Kalo bisa sih dibikinin kayak website profesional gitu. Ntar saya urus deh izinnya, tenang aja.” Lanjut beliau
“Oke deh, Insya Allah saya bisa, hubungi aja nanti sayanya kalo ibu perlu”
“Sip, nih semuanya udah saya tanda tanganin. Saya mau istirahat dulu, kamu silahkan pulang. Jangan lupa belajar ya, jangan malu-maluin saya.” Tutup Bu Titin.
“Iya bu, makasih” tutupku, kemudian aku bersalaman dengan beliau, dengan cium tangan tentunya sebagai rasa hormat.
Beranjak aku menuju pintu keluar dan siapapun yang ku lalui akan ku salami. Dan ternyata, konsultasi itu nggak seperti yang dibayangkan kok. Malahan aku dapet Job tambahan, sebagai admin website di kampusku berkuliah.
Semoga artikel ini bermanfaat. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.teropongku.com/2013/02/di-titik-nadir.html. Terima kasih telah membaca artikel ini.




Close
wah selamat ya sobat, dapat job baru hehehe. coba sobat nggak usah nunggu antrian terahir, pasti mahasiswa yang lain pada tau dech kalau sobat dapat jabatan baru di kampus hehehe sukses sellu ya sob..?
BalasHapushaha, belum pasti juga sih jabatanna
Hapusdasar mas arief ini bakatnya profesional ya, segalanya akan nyangkut kesitu lagi. termasuk soal admin di website itu, semoga mendatangkan berkah dan rejeki, hehe... ikut seneng!
BalasHapusAmiin. . .
Hapusnggk tau juga sih kok nyangkut terus
Ternyata jadi seorang blogger ada hikmahnya juga ya sob, selamat yah bisa nambah job, tapi nilai harus banyak A buat semester depan mah hihi..
BalasHapusSiap Komandan !!!
Hapuswew, asiknya dapet job tambahan jadi admin, wah alamat gak pusing ngari gawean lagi neh ntar, :D
BalasHapusselamat ya sob :D
Masih belum pasti
HapusSelamat sob atas job barunya,,semangat sobat,buat yang terbaik yah :)
BalasHapusSiip, makasih :)
Hapuskunjungan lagi nih sobat, sambil ngintipin nilai sobat yang sangat rahasia itu hehehhehehe
BalasHapusBiarkan saya dan segelintir orang saja yang tau gimana nilai itu
Hapus.. wachhhhhhhh,, akhir nya sang dosen minta tolong nich. he..86x ..
BalasHapushehe, alhamdulillah ya.
Hapusweehh manteb ... q doákan moga sukses ya sob .. ^_^
BalasHapusamiin
Hapusjadi begitu rasanya menjadi mahasiswa
BalasHapus---
btw, penulis dari Banjarmasin?
Yup, saya dari banjarmasin. asli bubuhan pahuluan
Hapuswei.. malah dapet kesmpatan bikin blog. akhirnya semua da jalan, tapi jangan lupa belajarnya biar IPKnya naik. Kan malu, ada yang tau pengurus blognya ipkanya kecil, jadi mempermalukan dunia blogger. hehehe
BalasHapusSiap komandan . . . !!!
Hapusnilai ip gimana?
BalasHapusdapat job tambahan bisa bagi waktu ga?
Semester ini saya agk sensitif kalo ditanya masalah IP mas, hehe. Insya Allah bisa bagi waktu
Hapusbarusan ngambil IP kemarin, cuma dapat 18 sks aja mas, bukan karena bodoh, cuma dapat dosen yang sial aja, jd IP satu kelas ancur semua, pada dasarnya IP itu bukan masalah malas, bodoh atau gimana, tp mungkin juga hal utama'a karena dapat mata kuliah yang susah + dosen'a killer
BalasHapusIya, kebetulan temen-temen saya banyak yang jatuh juga
Hapusbeehhh pusing juga dah :D
BalasHapuskeren niihh si agan..sukses gan..
BalasHapusMantep gan...
BalasHapus