Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya di posting ini bahwa saya ingin menghilang dulu dari dunia perbloggeran Indonesia. Bagaimanapun saya harus fokus menyelesaikan urusan dunia nyata saya, menyelesaikan sebuah buku yang udah di deadline per tanggal 17 Maret 2013. Juga saya harus bekerja didalam sebuah Himpunan Mahasiswa Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung mangkurat yang minggu ini akan melaksanakan hajaan yang super besar, bahkan boleh dibilang acara yang paling besar dalam setiap tahunnya di organisasi tersebut. Kacaunya, saya ditunjuk menjadi kordinator suatu bidang yang boleh dibilang harus kerja mati-matian.
Tapi itulah saya, tak bisa sepenuhnya lepas dari Internet, apalagi dunia blogger. Ada-ada saja bisikan-bisikan yang memaksaku untuk sesekali ngintip peternakan blog tersebut. Pertama adalah ulah supporter Barito Putera yang memanggil jiwaku untuk ngeblog lagi, dan tulisannya bisa di intip disini.
Tapi sepertinya bukan hanya saya saja deh yang nggak bisa lepas dari Internet. Sebagian besar manusia didunia ini mungkin juga begitu terutama bagi orang-orang barat sono. Entahlah karena saya nggak pernah ngelakuin survei juga. Setidaknya setiap hari ngebuka facebook, twitter, dll. Mau nyari baju anak branded aja perlu ke tempat grosir baju anak online. Hedech, sebuah fenomena yang nggak bisa di hindari sih mengingat kemajuan zaman yang begitu pesat.
Doaken semoga penyelesaiannya dimudahkan.
Penulis: Muhammad Syarifuddin (Arief Putera)
Genre: Fiksi Religi, Persahabatn
Partikel Kesatu: Line Life, I Like Being Unperfect
Persiapanku menempuh studi strata1 di Universitas tertua di tanah Borneo.
Partikel Kedua: Wartawan Buta
Pertemuanku dengan Ari, orang gila dari seberang.
Partikel Ketiga: Bukan Urusanmu !!!
Kekesalanku kepada Ari
Partikel Keempat: Ttd Berundak
Aku dan Ari harus menjalani hukuman kakak-kakak senior pada Orientasi mahasiswa baru Hari Pertama.
Partikel Kelima: Julak . . . Oh Julak
Aku dan Ari harus menjalani Orientasi Mahasiswa selanjutnya di ruang kesehatan. Namun disana kami mendapat kesempatan untuk bersua dengan kakak-kakak senior.
Partikel Keenam: Kartu Rencana Studi
Cara ajaib seorang Ari menaklukkan birokrasi kampus
Partikel ketujuh: Mau sukses, Akrablah Dengan Kakak Tingkat
Menerapkan teori-teori dari Hasanah Erliani
Partikel Kedelapan: Hari Pertama Masuk Kuliah
Pengadaptasian dengan suasana perkuliahan
Partikel Kesembilan: Dosen Killer vs Ayam Kampus
Istilah-istilah baru yang kami dapatkan dari Erli
Partikel Kesepuluh: Antara Aku, Ari, dan Lusiana
Wanita yang membuat Ari jatuh Cinta
Partikel Kesebelas: Ember Plastik
Penyebab kami berselisih dengan senior kost
Partikel Keduabelas: Wisata Hati Mencari Tuhan Yang Hilang
Cara Ari mengisi waktu luang
Partikel Ketigabelas: 3 Idiots
Hikmah dari Film 3 Idiots
Partikel Keempatbelas: Spy Cam
Hadiah spesial dari Ari untukku
Partikel Kelimabelas: Tiket Emas
Hadiah spesial dari Ari untukku (lagi)
Partikel Keenambelas: Kun Fa Yakuun
Motivasi Ari untukku yang tidak percaya diri
Partikel Ketujuhbelas: 5 + 3 = -2, kok bisa?
Kebiasaan Ari di Pagi Hari
Partikel Kedelapanbelas: Ngelirik
Keprihatinan Ari terhadap Indonesia
Partikel Kesembilanbelas: Mata Air
Pertama kalinya aku melihat Ari menangis
Partikel Keduapuluh: Riyahadah Ibadah dan Doa
Ceramah Ari untukku
Partikel Keduapuluhsatu: Come To Him, Talk To Him
Perdebatanku dengan Ari masalah bahasa kesopanan
Partikel Keduapuluhdua: Kepintaran yang Absurd
Kekecewaan Ari terhadap sisrem pendidikan di Universitas lambung mangkurat
Partikel Keduapuluhriga Sosok Pak Amat
Kado ulang tahun untuk ayah
Partikel Keduapuluhempat: Sosok Itu Pun Terbaring Lemah
Ternyata Ari mengidap penyakit berbahaya
Partikel Keduapuluhlima: Motivasi Dari Karedok
Motivasi yang ku dapatkan saat makan karedok sendirian dipinggir jalan
Partikel Keduapuluhenam: Time Machine
Ari bercerita tentang apa yang ia rasakan
Partikel Keduapuluhtujuh: Bangsa Ini
Harapan Ari untukku
Partikel Keduapuluhdelapan: Ketemu YM
Ternyata Aku belum kenal Ari seutuhnya
Partikel Keduapuluhsembilan: Arti Sebuah Nama
Akhirnya aku mengerti apa yang dimaksud Ari
Teuku Fikri Alamsyah (Ari), temanku berkuliah di program studi dan kampus yang sama. Dia anak yang percaya diri, padahal menurutku secara fisik dia nggak ganteng-ganteng amat. Kulitnya coklat bahkan bisa dibilang hitam, namun semangatnya bisa menaklukkan segalanya. Banyak juga wanita yang tertarik atas kegilaan aksi-aksinya, namun mata Ari hanya terkait oleh senyuman Lusiana, cewek terpintar di kelas kami. Banyak-kejadian-kejadian yang tidak terduga menimpa Ari, dan ini memaksanya menjadi sosok yang luar biasa. Ari mengagumi sosok Yusuf Mansyur, dan berharap suatu hari nanti dia bisa bertemu dengan sang Ustadz.
Hesti Lusiana Anwar, putri bungsu dari orang yang terpandang di Banjarmasin. Meski begitu, IP Lusi di semester 1 hampir mendekati kumlod dan menjadikannya dianggap cewek terpintar seangkatan. Sifatnya yang misterius dan murah senyum membuat Ari tergila-gila.
Aulia Fauzan, cowok bertubuh tambun namun memiliki pesona luar biasa. Pencair suasana kelas dengan lawakan-lawakan khas. Dia memiliki prinsip hidup “Berpikirlah Bila Diperlukan Saja”. Meski begitu, Ojan merupakan orang yang gigih dalam perjuangan. Kata-kata yang terkenal darinya adalah “Otakku tak sejenius kalian, satu-satunya cara untuk mengejar adalah melakukan usaha yang lebih dari orang-orang normal lakukan”.
Hasanah Erliani, bersama Ari dia biasa menjadi biang keributan di kelas
Pak Umar, dosen Fisika yang boleh dibilang killer terhadap anak didiknya.
Samarul Fuadi, cowok kalem dirumah kost yang kutempati. Dia sering terlibat konflik dengan senior di kost tersebut. Meski begitu, seing kudengar kata-kata bijak dari mulut orang ini.
Ahmad Makky, senior di tempat kami ngekost. Sok ngatur-ngatur segala hal dan mimpin anak-anak kost lain. Keberadaannya dengan Fuad sering di ibaratkan Tom & Jerry.
Jaufan Tajward, mahasiswa Fakultas Ekonomi yang terobsesi jadi penyanyi. Kegigihannya dalam meraih mimpi menjadi sumber inspirasi dan renungan aku dan Ari. Anak ini moody banget.
Dan Lainnya sebagai tokoh tambahan
Dia menghampiriku dan mengulurkan tangannya “Aku Ari, kamu ?”. “Kiky” jawabku singkat.
Dan sebuah kebetulan terencana terjadi. Entah mengapa kami selalu bekerja dalam tim yang sama, dihukum pun barengan. Aku dan dia pun ternyata harus menempati rumah kost yang sama, bahkan harus bersebelahan kamar. Disinilah aku mulai menilai secara kasat mata bagaimana sosoknya. Sosok yang bagiku cukup hebat, sosok yang mampu memahami situasi kondisi dan memecahkan masalah dengan cara yang terbilang gila.
Hampir setiap waktu kami habiskan waktu bersama. Menjadi wartawan dadakan, mencari kado untuk ayah, nongkrong di toko buku, ke mesjid bareng, sesuatu yang tidak lucu, namun dengannya aku bisa menertawakan hidup. Dia mengajariku banyak hal. Dia memberiku keberanian lebih. Aku hidup kembali. Hidup dengan mimpi-mimpi yang dulu sempat hilang. Bagiku masa itu adalah masa singkatku berkuliah di fakultas kehidupan, dan dia dosennya.
Waktu terus berlalu dan semua tidak berjalan Ideal. Kuliahku berantakan dan aku beranggapan bahwa ini salahnya. Dia menawarkan mimpi-mimpi indah yang ku anggap membutakan. Aku tak tahu harus bicara apa untuk mempertanggung jawabkan semuanya. Dan aku kembali digerogoti rasa takut, ketakutan akan kekecewaan orang tua yang telah banyak berkorban untuk kuliahku.
Dan berbagai fakta akhirnya terbuka lebar. Dibalik senyumnya yang lebar ternyata terendap getirnya hidup. Tak ada yang tersisa sejak air laut menyapu rumahnya pada 2004 silam, bahkan keluarga pun menghilang. Paru-parunya juga terkerna infeksi akut setelah itu. Aku lembali tersadar bahwa ternyata, pahitnya hidup yang kualami tak sekelam hidupnya. Setidaknya sampai saat ini aku masih bisa melihat ayah dan ibuku tersenyum. Bagaimana dengannya? Kubur ayah ibunya saja tak tahu dimana.
Bagaimana cara dia menikmati hidup yang hanya sebentar itu? Jawabnya ada pada 'Ketemu YM'
Semoga artikel ini bermanfaat. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.teropongku.com/2013/02/nggak-bisa-lepas.html. Terima kasih telah membaca artikel ini.
Tapi itulah saya, tak bisa sepenuhnya lepas dari Internet, apalagi dunia blogger. Ada-ada saja bisikan-bisikan yang memaksaku untuk sesekali ngintip peternakan blog tersebut. Pertama adalah ulah supporter Barito Putera yang memanggil jiwaku untuk ngeblog lagi, dan tulisannya bisa di intip disini.
Tapi sepertinya bukan hanya saya saja deh yang nggak bisa lepas dari Internet. Sebagian besar manusia didunia ini mungkin juga begitu terutama bagi orang-orang barat sono. Entahlah karena saya nggak pernah ngelakuin survei juga. Setidaknya setiap hari ngebuka facebook, twitter, dll. Mau nyari baju anak branded aja perlu ke tempat grosir baju anak online. Hedech, sebuah fenomena yang nggak bisa di hindari sih mengingat kemajuan zaman yang begitu pesat.
Rancangan Buku Baru Saya
Ini nih buku yang harus saya rampungkan pada 17 Maret nanti. Judulnya Ketemu YM (Yusuf Mansyur)Doaken semoga penyelesaiannya dimudahkan.
Identitas
Judul : Ketemu YM (Yusuf Mansyur)Penulis: Muhammad Syarifuddin (Arief Putera)
Genre: Fiksi Religi, Persahabatn
Outline
Partikel Kesatu: Line Life, I Like Being Unperfect
Persiapanku menempuh studi strata1 di Universitas tertua di tanah Borneo.
Partikel Kedua: Wartawan Buta
Pertemuanku dengan Ari, orang gila dari seberang.
Partikel Ketiga: Bukan Urusanmu !!!
Kekesalanku kepada Ari
Partikel Keempat: Ttd Berundak
Aku dan Ari harus menjalani hukuman kakak-kakak senior pada Orientasi mahasiswa baru Hari Pertama.
Partikel Kelima: Julak . . . Oh Julak
Aku dan Ari harus menjalani Orientasi Mahasiswa selanjutnya di ruang kesehatan. Namun disana kami mendapat kesempatan untuk bersua dengan kakak-kakak senior.
Partikel Keenam: Kartu Rencana Studi
Cara ajaib seorang Ari menaklukkan birokrasi kampus
Partikel ketujuh: Mau sukses, Akrablah Dengan Kakak Tingkat
Menerapkan teori-teori dari Hasanah Erliani
Partikel Kedelapan: Hari Pertama Masuk Kuliah
Pengadaptasian dengan suasana perkuliahan
Partikel Kesembilan: Dosen Killer vs Ayam Kampus
Istilah-istilah baru yang kami dapatkan dari Erli
Partikel Kesepuluh: Antara Aku, Ari, dan Lusiana
Wanita yang membuat Ari jatuh Cinta
Partikel Kesebelas: Ember Plastik
Penyebab kami berselisih dengan senior kost
Partikel Keduabelas: Wisata Hati Mencari Tuhan Yang Hilang
Cara Ari mengisi waktu luang
Partikel Ketigabelas: 3 Idiots
Hikmah dari Film 3 Idiots
Partikel Keempatbelas: Spy Cam
Hadiah spesial dari Ari untukku
Partikel Kelimabelas: Tiket Emas
Hadiah spesial dari Ari untukku (lagi)
Partikel Keenambelas: Kun Fa Yakuun
Motivasi Ari untukku yang tidak percaya diri
Partikel Ketujuhbelas: 5 + 3 = -2, kok bisa?
Kebiasaan Ari di Pagi Hari
Partikel Kedelapanbelas: Ngelirik
Keprihatinan Ari terhadap Indonesia
Partikel Kesembilanbelas: Mata Air
Pertama kalinya aku melihat Ari menangis
Partikel Keduapuluh: Riyahadah Ibadah dan Doa
Ceramah Ari untukku
Partikel Keduapuluhsatu: Come To Him, Talk To Him
Perdebatanku dengan Ari masalah bahasa kesopanan
Partikel Keduapuluhdua: Kepintaran yang Absurd
Kekecewaan Ari terhadap sisrem pendidikan di Universitas lambung mangkurat
Partikel Keduapuluhriga Sosok Pak Amat
Kado ulang tahun untuk ayah
Partikel Keduapuluhempat: Sosok Itu Pun Terbaring Lemah
Ternyata Ari mengidap penyakit berbahaya
Partikel Keduapuluhlima: Motivasi Dari Karedok
Motivasi yang ku dapatkan saat makan karedok sendirian dipinggir jalan
Partikel Keduapuluhenam: Time Machine
Ari bercerita tentang apa yang ia rasakan
Partikel Keduapuluhtujuh: Bangsa Ini
Harapan Ari untukku
Partikel Keduapuluhdelapan: Ketemu YM
Ternyata Aku belum kenal Ari seutuhnya
Partikel Keduapuluhsembilan: Arti Sebuah Nama
Akhirnya aku mengerti apa yang dimaksud Ari
Penokohan:
Aku, bernama Muhammad Rezky Fikron (Kiky) adalah seorang mahasiswa Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat angkatan 2011. Aku sangat dekat dengan kedua orang tua, dan berharap bisa berhasil dalam sebuah ekspektasi hidup yang mereka berikan. Aku berperawakan kurus, tak terlalu tinggi tapi juga tidak pendek. Kulitku lumaian putih dengan wajah hokian. Lumaian banyak wanita yang tertarik padaku, namun karena karakterku yang penakut dan tidak bersemangat, wanita-wanita tersebut terabaikan.Teuku Fikri Alamsyah (Ari), temanku berkuliah di program studi dan kampus yang sama. Dia anak yang percaya diri, padahal menurutku secara fisik dia nggak ganteng-ganteng amat. Kulitnya coklat bahkan bisa dibilang hitam, namun semangatnya bisa menaklukkan segalanya. Banyak juga wanita yang tertarik atas kegilaan aksi-aksinya, namun mata Ari hanya terkait oleh senyuman Lusiana, cewek terpintar di kelas kami. Banyak-kejadian-kejadian yang tidak terduga menimpa Ari, dan ini memaksanya menjadi sosok yang luar biasa. Ari mengagumi sosok Yusuf Mansyur, dan berharap suatu hari nanti dia bisa bertemu dengan sang Ustadz.
Hesti Lusiana Anwar, putri bungsu dari orang yang terpandang di Banjarmasin. Meski begitu, IP Lusi di semester 1 hampir mendekati kumlod dan menjadikannya dianggap cewek terpintar seangkatan. Sifatnya yang misterius dan murah senyum membuat Ari tergila-gila.
Aulia Fauzan, cowok bertubuh tambun namun memiliki pesona luar biasa. Pencair suasana kelas dengan lawakan-lawakan khas. Dia memiliki prinsip hidup “Berpikirlah Bila Diperlukan Saja”. Meski begitu, Ojan merupakan orang yang gigih dalam perjuangan. Kata-kata yang terkenal darinya adalah “Otakku tak sejenius kalian, satu-satunya cara untuk mengejar adalah melakukan usaha yang lebih dari orang-orang normal lakukan”.
Hasanah Erliani, bersama Ari dia biasa menjadi biang keributan di kelas
Pak Umar, dosen Fisika yang boleh dibilang killer terhadap anak didiknya.
Samarul Fuadi, cowok kalem dirumah kost yang kutempati. Dia sering terlibat konflik dengan senior di kost tersebut. Meski begitu, seing kudengar kata-kata bijak dari mulut orang ini.
Ahmad Makky, senior di tempat kami ngekost. Sok ngatur-ngatur segala hal dan mimpin anak-anak kost lain. Keberadaannya dengan Fuad sering di ibaratkan Tom & Jerry.
Jaufan Tajward, mahasiswa Fakultas Ekonomi yang terobsesi jadi penyanyi. Kegigihannya dalam meraih mimpi menjadi sumber inspirasi dan renungan aku dan Ari. Anak ini moody banget.
Dan Lainnya sebagai tokoh tambahan
Sinobsis.
Aku melangkah gagah disisi para pemenang, bersama orang-orang luar biasa yang telah menyisihkan ribuan pesaing. Ya, di tempat inilah aku pertama kali melihat wajah bengalnya. Dia tak sendiri, bersama – orang-orang ang aku tak tahu mereka siapa. Aku disana bak seorang yang tak tahu apa-apa, merasa sepi ditengah keramaian.Dia menghampiriku dan mengulurkan tangannya “Aku Ari, kamu ?”. “Kiky” jawabku singkat.
Dan sebuah kebetulan terencana terjadi. Entah mengapa kami selalu bekerja dalam tim yang sama, dihukum pun barengan. Aku dan dia pun ternyata harus menempati rumah kost yang sama, bahkan harus bersebelahan kamar. Disinilah aku mulai menilai secara kasat mata bagaimana sosoknya. Sosok yang bagiku cukup hebat, sosok yang mampu memahami situasi kondisi dan memecahkan masalah dengan cara yang terbilang gila.
Hampir setiap waktu kami habiskan waktu bersama. Menjadi wartawan dadakan, mencari kado untuk ayah, nongkrong di toko buku, ke mesjid bareng, sesuatu yang tidak lucu, namun dengannya aku bisa menertawakan hidup. Dia mengajariku banyak hal. Dia memberiku keberanian lebih. Aku hidup kembali. Hidup dengan mimpi-mimpi yang dulu sempat hilang. Bagiku masa itu adalah masa singkatku berkuliah di fakultas kehidupan, dan dia dosennya.
Waktu terus berlalu dan semua tidak berjalan Ideal. Kuliahku berantakan dan aku beranggapan bahwa ini salahnya. Dia menawarkan mimpi-mimpi indah yang ku anggap membutakan. Aku tak tahu harus bicara apa untuk mempertanggung jawabkan semuanya. Dan aku kembali digerogoti rasa takut, ketakutan akan kekecewaan orang tua yang telah banyak berkorban untuk kuliahku.
Dan berbagai fakta akhirnya terbuka lebar. Dibalik senyumnya yang lebar ternyata terendap getirnya hidup. Tak ada yang tersisa sejak air laut menyapu rumahnya pada 2004 silam, bahkan keluarga pun menghilang. Paru-parunya juga terkerna infeksi akut setelah itu. Aku lembali tersadar bahwa ternyata, pahitnya hidup yang kualami tak sekelam hidupnya. Setidaknya sampai saat ini aku masih bisa melihat ayah dan ibuku tersenyum. Bagaimana dengannya? Kubur ayah ibunya saja tak tahu dimana.
Bagaimana cara dia menikmati hidup yang hanya sebentar itu? Jawabnya ada pada 'Ketemu YM'
Semoga artikel ini bermanfaat. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://www.teropongku.com/2013/02/nggak-bisa-lepas.html. Terima kasih telah membaca artikel ini.




Close
Sukses selalu sob, ditunggu buku barunya yah, kalo udah jadi jangan lupa promo, gratisan dulu hehe...
BalasHapusInsya Allah,,
Hapushehe
saya ndaftaar!!
HapusBayarr . . . . .
Hapuswah, penulis rupanya
BalasHapusPenulis kakeituah
Hapussaya tunggu sekali kehadiran bukunya. mantaaap.
BalasHapusselamaat Mas Arief.
Makasiiiiii
HapusBanyak juga yang mau dikerjakan Mas,tapi mudahan semua bisa diselesaikan walaupun jadwalnya padat sekali.Tentunya memerlukan tenaga dan pikiran yang keras untuk bisa menyelesaikan semuanya.
BalasHapusSemangat Mas, semoga semua cepat selesai sesuai apa yang diinginkan.
Siap delapanenam !!!
Hapussemoga sukses sob.
BalasHapusnih kliatan banyak yang nunggu gratisan. saya juga mau gratisan..hehehe
Saya juga mau yg gratisan, hhe
HapusSemoga semuanya diberi kelancaran yah Mas.Amin
BalasHapusAmiin YA Rabbal Alaamin
Hapus.. GudLuck aja dech untuk buku nya ..
BalasHapusTengkyu
Hapuswah, smpean seorang writer trnyata. semoga cepat kelar mas bukunya..biar cepat di terbitkan.
BalasHapusSipp :)
HapusYg semamgat bang....
BalasHapusokeh bang !!!
HapusNamanya Familiar... tetap berjuang KawaN..
BalasHapusEmang Inspirasinya dari sana
Hapus