Dosen Versus Mama Papa
Sudut Pandang, Sukses Berkarir

Galau lagi. Itulah yang akan kukatakan kepadamu. Lalu apakah kamu bersedia mendengar? Cepat keluar jika kamu hanya menjadi seorang yang sok tahu. Kalo kamu bisanya menghardik, mencaci, memaki ya silahkan saja. Namun saya ingatkan bahwa sekarang kelabilanku mencapai titik akut dan saya tak perlu kalian. Tak perlu kalian yang sok tahu yang tak pernah bisa berpikir seperti aku. Diamlah, lalu dengarkan ceritaku dan berikan hiburan. Aku butuh kalian, hey!!!. Aku sungguh butuh kalian you know? Tetapi ada kalanya aku sakit dan kuberitahu bahwa sekarang aku lagi sakit.

Entah kenapa dan bgaimana kawan-kawan sekampus menyangka aku terkena galau akut. Padahal tak seperti demikian dan kalian tahu itu. Kalian bisa saja ngintipin status facebookku, kicawan twitter, dan juga tulisan di personal blogku. Apakah aku seorang penggalau? Lalu kenapa aku harus disebut seorang penggalau? Apakah ini dampak dari aku punya blog? Jangan berpikiran sempit dulu deh, emang seseorang yang nulis di blog itu adalah freminim gitu??? Lalu apa yang kamu maksud bahwa aku adalah penggalau akut?

Hey, kayaknya cap yang kalian berikan sudah mulai berpengaruh dialam bawah sadarku. *please jangan nyengir*. Dan sekarang aku benar-benar galau.

Tak habis pikir kenapa bisa-bisanya aku terjebak di situasi seperti ini. Siapa yang salah? Tuhan?? Hey sekali lagi jangan pernah menyalahkan aku yang sedang labil ini !!!

Terjun didunia fisika yang aku sudah tahu dari dulu bahwa ia bukanlah keahlianku bukanlah sesuatu yang mudah. Mudah saja awalnya aku hanya menjawab pertanyaan yang mempertanyakan keputusanku dengan mengatakan “Takdir” atau “Belajar Seni Menikmati Masalah”. Sekarang? Hal itu semakin sulit dan tak perlu dikasih tahu juga bahwa fisika itu sulit.

Pernah dosenku bilang bahwa aku tak berbakat dengan fisika dan menyarankan untuk pindah jurusan. Ah, benar juga karena aku lebih suka menjadi Jurnalis daripada Ilmuan. Aku lebih tertarik dengan Kata daripada angka.

Namun semua tak selalu senada dengan pemikiran mereka. Mereka yang melaihrkan dan merawatku hingga sekarang malah sangat mengekspektasikan anaknya untuk tetap bertahan. Pernah kubilang bahwa aku adalah mahasiswa terlemah di Fisika, tapi mereka bilang itu hanya kesalahanku karena aku pemalas. Ah, dibilang pemalas oleh mereka lagi-lagi bukanlah hal yang mudah. Aku rajin untuk sesuatu yang aku suka dan pasti semangatku menurun drastis ketika melihat angka.

Jika tetap berada disini, dosenku meramalkan bahwa hampir pasti aku akan telat lulus kuliah. Telat memang sesuatu yang sangat kutakuti, apalagi semenjak mereka bilang bahwa aku harus lulus maksimal hanya dalam tempo 4 tahun. Sesuatu yang cukup mustahil memang mengingat aku juga pernah tak kuliah hampir satu semester diepisode pertama karena sakit yang menyerang. Logikanya jika aku lulus bersama yang lain, berarti aku hanya berkuliah selama 3,5 tahun.

Aku tak masalah jika berlama-lama dikampus, tapi mereka itu loh yang sedikit membuatku kesal. Pernah aku mengajukan diri untuk mencari pekerjaan untuk kuliah dengan alasan agar tanggungan mereka sedikit berkurang. Ini juga agar kewajiban mereka ketika aku telat kuliah tak terlalu memberatkan. Aku sungguh tak mau jika orang tuaku membiayaiku ketika aku telat *titik*. Tapi apa daya, dengan kekeras kepalaan mereka tak memperbolehkanku bekerja dengan dalih agar aku fokus kuliah. Padahal dengan uang saku yang mereka berikan jelas kurang untuk saat ini. Aku lebih sering puasa karenanya.

Tak heran jika aku keras kepala karena mereka juga keras kepala.

Tapi aku sadar bahwa mereka adalah orang tuaku. Bagaimanapun aku harus menghormati dan patuh pada mereka. Mereka sudah bersusah payah agar aku tetap hidup dan manamungkin aku harus menghianati mereka.

Tapi…. aku harus bagaimana? *dilema*

#Tulisan ini tidak untuk ditiru. Hanya untuk menggambarkan kusutnya otakku yang sekusut tulisan tersebut.

sebarkan facebook Twitter Google Plus
Dosen Versus Mama Papa | arief16 | 4.5