Kasihani Pasar Terapung (ku)
Destinasi, Sudut Pandang

Pernahkah kamu mendengar istilah pasar terapung? Diasana kamu akan merasakan sensasi dan pengalaman unik melakukan transaksi jual beli diatas air (terapung). di Indonesia, pasar terapung yang terkenal terletak di daerah Kalimantan Selatan, yakni pasar terapung kuin di Banjarmasin dan pasar terapung Lok Baintan di Kabupaten Banjar.

Sempat menjadi tujuan utama para pelancong yang berkunjung ke kalimantan Selatan, sekarang nasib kedua pasar terapung ini malah semakin memprihatinkan. Berada diatas air sungai yang luar biasa pekat ditambah dengan menyempitnya area sungai menjadi salah satu masalah dari pasar kebanggan bumi lambung mangkurat ini.

Pasar terapung pun tak semeriah dahulu lagi. Banyak wisatawan yang kecewa setelah berkunjung. Jumlah pedagang pun hampir punah. Padahal dulu jumlah pedagang disini mencapai 300 orang dan sekarang hanya tinggal belasan. Para pedagang sendiri lebih memilih berdagang di darat daripada tetap disungai. Selain karena faktor keuntungan yang diperoleh, pembangunan infrastruktur yang tidak seimbang antara darat dan perairan menjadi alasan lain. “Lebih mudah berdagang didarat daripada di sungai” kata salah seorang mantan pedagang pasar terapung kuin.

Entah ini merupakan kemajuan atau tidak, sekarang warga lebih bangga memiliki sepeda motor atau mobil dibandingkan dengan jukung (perahu. Red). Pola pikir masyarakat yang mulai bergeser ke arah “modernisasi” mungkin juga menjadikan salah satu penyebab pasar terapung mulai ditinggalkan.

Ciri khas urang banjar (suku asli kalimantan selatan) yang dulunya sempat melegenda pun sekarang sudah tak terlihat lagi. Ironisnya, orang banjar sendiripun terkadang masih banyak yang tidak tahu sama sekali kehebatan para leluhurnya. Diantara ciri khas urang banjar behari (leluhur suku banjar) adalah pengelolaan sungai yang sangat mengagumkan. Dahulu orang banjar mengarungi Kalimantan cukup hanya dengan sebuah jukung. Selain bertransportasi, kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain pun tidak terlepas dengan yang namanya sungai. Tak heran jika nantinya salah satu kota di Kalimantan Selatan dijuluki sebagai “kota Seribu Sungai”.

Sekarang?
Jangankan melihat seseorang mengarungi kalimantan dengan jukung, jukungnya pun udah hampir punah. Hehe.

Disinilah sebenarnya kita bisa menginstropeksi diri, sejauh manakah kita bisa menjaga kebudayaan-kebudayaan disekitar kehidupan sehari-hari. Apalagi budaya yang bernilai positif, lebih harus dilestarikan. Jangan hanya ketika ada budaya yang diklaim negara tetangga baru berkoar-koar.

Selain sebagai budaya, pasar terapung nyatanya juga berpengaruh terhadap perekonomian banua (istilah untuk Wilayah Kalimantan Selatan). Tercatat bahwa pada tahun 2008 Kalimantan Selatan mampu menarik 24 ribu wisatawan asing dan setahun kemudian menurun menjadi 22 ribu. Jika kondisi pasar terapung terus dibiarkan, bisa jadi pendapatan daerah dari wisatawan akan menurun drastis karena Pasar Terapung adalah selah satu tujuan utama wisatawan untuk berkunjung ke Kalimantan Selatan.

sebarkan facebook Twitter Google Plus
Arief Putera - Kasihani Pasar Terapung (ku) - Teropongku.com - 628-9897-54-275 -33285 - 1145892