Relakah Anda jika Tuhan Anda dijadikan Lelucon dan Tertawaan?
Sudut Pandang

Masalah ketuhanan dan perbedaan keyakinan di Indonesia ini memang memberikan kisahnya tersendiri. Kita tahu beberapa waktu yang lalu, gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Cahaya Purnama atau yang biasa dikenal dengan Ahok dilaporkan kepada pihak yang berwenang karena perkataannya yang dianggap melecehkan agama Islam. Kemudian dengan kasus yang serupa dan tuduhan yang sangat identik, salah satu pelapor Ahok yakni Habib Riziek Syihab juga dipolisikan.

Dalam hal ini, tulisan dari bapak Zainal Fikri mungkin bisa dijadikan sebagai sedikit dari pencerahan untuk kita semua. Beliau adalah dosen Filsafat di IAIN Antasari Banjarmasin dan pernah mengajar saya di mata kuliah Dasar-Dasar Filsafat. Berikut isi tulisan beliau.

Stereotipe dan prejudis adalah hasil dari kategorisasi sosial. Kategorisasi sosial (kita melihat orang bukan sebagai individu yang unik, tapi sebagai bagian dari kelompok tertentu).

Kita biasa mengelompokkan orang ke dalam agama tertentu, etnis, Bahasa, gender, usia, kemampuan dll. Kemudian kita mempunyai pandangan tentang seseorang atau kelompok berdasarkan perilaku dan tindakan orang lain yang sama atau satu kelompok. Pandangan ini disebut Stereotipe. Yaitu pandangan tentang karakteristik suatu kelompok. Pandangan itu bisa akurat, atau terlalu mengeneralisir, atau berlebihan.

Kemudian kita mempunya perasaan, sikap, negatif terhadap suatu kelompok. Perasaan dan sikap negatif ini disebut prejudis. Misalnya, suka, tidak suka, marah, takut, tidak nyaman, benci terhadap orang dari kelompok tertentu. Diskriminasi adalah perbuatan yang merugikan orang lain yang menjadi target prejudis. Jika stereotip berada pada wilayah kognitif (pikiran), prejudis berada pada wilayah afektif (perasaan), sedangkan diskriminasi berada pada wilayah perilaku (aksi).

Mungkin dalam hidup Anda pernah mengalami prejudis, korban kebencian, ujaran kebencian. Pernahkah Anda melihat atau mendengar seseorang dijadikan lelucon karena terlihat berbeda atau lain?

  • Pernahkah Anda mendengar guyonan atau cerita lucu tentang suatu kelompok tertentu, dari agama tertentu?
  • Pernahkah Anda menyaksikan orang tidak diikutkan dalam suatu aktivitas karena keyakinan atau tampilan mereka?
  • Pernahkah Anda menyaksikan orang ditertawakan karena berbeda? Memanggil orang dengan sebutan yang dia tidak suka?
  • Ngerumpi atau ngegossip tentang orang yang Anda tidak sukai karena berbeda agama?

Itu semua adalah contoh prejudis, kebencian atau sikap negatif terhadap orang lain yang berbeda dengan diri kita.

Menurut Allport, skala prejudis dapat berupa: (1) Antilocution; (2) Menghindar (Avoidance); (3) Diskriminasi (Discrimination); (4) Serangan fisik (Physical attack); (5) Pemusnahan (Extermination).

Pada skala antilokusi, kelompok mayoritas seenaknya membuat lelucon tentang kelompok minoritas. Bicara hal-hal negatif tentang kelompok minoritas.

Pada skala menghindar (avoidance), orang dari kelompok minoritas dihindari, tidak diikutkan atau dikucilkan.

Pada skala diskriminasi, orang yang menjadi target prejudis tidak diberikan kesempatan, tidak dilayani.

Pada skala serangan fisik, property milik target dicorat-coret, dirusak, orangnya diserang dan dipukul serta bentuk kekerasan fisik lainnya.

Pada skala pemusnahan dapat berupa pembantaian dan pemusnahan pemeluk agama lain.

Untuk menutup tulisannya, bapak Zainal Fikri mengutip sebuah Ayat Al Quran yang kalau diartikan kurang lebihnya sebagai berikut:

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS Al-An’am, 108).

sebarkan facebook Twitter Google Plus
Relakah Anda jika Tuhan Anda dijadikan Lelucon dan Tertawaan? | arief16 | 4.5