Melihat Keseruan Perang Antar Suku Dalam Festival Lembah Baliem, Papua
Seni Budaya

Festival Lembah Baliem adalah festival budaya khas suku Wamena, Papua. Bagi kita, Festival Lembah Baliem mungkin terdengar asing, tetapi di kalangan turis mancanegara, festival ini sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu, maka tidaklah heran banyak turis mancanegara rela berbondong bondong datang ke Papua khusus untuk acara ini saja.

Lembah Baliem sendiri merupakan lembah di pegunungan Jayawijaya. Lembah Baliem berada di ketinggian 1600 meter dari permukaan laut yang dikelilingi pegunungan dengan pemandangannya yang indah dan masih alami. Suhunya bisa mencapai 10-15 derajat celcius pada waktu malam. Lembah ini juga dikenal sebagai Grand Baliem Valley yang merupakan tempat tinggal suku Dani yang terletak di Desa Wosilimo 27 km dari Wamena, Papua. Selain Suku Dani, beberapa suku lain hidup bertetangga di lembah ini, yakni Suku Yali dan suku Lani.

Festival Lembah Baliem awalnya merupakan acara perang antar suku Dani, Lani, dan Suku Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Sebuah festival yang menjadi ajang adu kekuatan antar suku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk Anda nikmati.

Festival Lembah Baliem berlangsung selama tiga hari dan diselenggarakan setiap bulan Agustus bertepatan dengan bulan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, dan pertama kali digelar pada tahun 1989. Festival ini dimulai dengan skenario pemicu perang seperti penculikan warga, pembunuhan anak suku, atau penyerbuan ladang yang baru dibuka. Adanya pemicu ini menyebabkan suku lainnya harus membalas dendam sehingga penyerbuan pun dilakukan. Atraksi ini tidak menjadikan balas dendam atau permusuhan sebagai tema, tetapi justru bermakna positif yaitu Yogotak Hubuluk Motog Hanoro yang berarti Harapan Akan Hari Esok yang Harus Lebih Baik dari Hari Ini.

Suku-suku di suku Papua meski sudah mengalami modernisasi, tetapi masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi mereka. Salah satu yang paling menonjol adalah pakaian pria suku Dani yang hanya mengenakan penutup kemaluan atau disebut Koteka. Koteka terbuat dari kulit labu air yang dikeringkan dan dilengkapi dengan penutup kepala yang terbuat dari bulu burung Cendrawasih atau burung Kasuari, sedangkan para wanita suku Dani mengenakan rok yang terbuat dari rumput atau serat pakis yang disebut Sali. Saat membawa babi atau hasil panen ubi, para wanita membawanya dengan tas tali atau noken yang diikatkan pada kepala mereka.

Dalam perang antar suku, setiap suku memiliki identitasnya masing-masing, dan orang dapat melihat perbedaan yang jelas di antara mereka sesuai dengan kostum dan koteka mereka. Pria suku Dani biasanya hanya memakai koteka kecil, sedangkan pria suku Lani mengenakan koteka lebih besar, karena tubuh mereka lebih besar daripada rata-rata pria suku Dani. Sedangkan pria suku Yali memakai koteka panjang dan ramping yang diikatkan oleh sabuk rotan dan diikat di pinggang.

Para ahli antropologi menjelaskan bahwa “perang suku Dani” lebih merupakan tampilan kehebatan dan kemewahan pakaian dengan dekorasinya, daripada perang untuk membunuh musuh. Perang bagi suku Dani lebih menampilkan kompetensi dan antusiasme daripada keinginan untuk membunuh. Senjata yang digunakan dalam perang ini adalah tombak panjang berukuran 4,5 meter, busur, dan anak panah. Korban dari perang ini lebih banyak korban terluka daripada terbunuh, dan yang terluka dengan cepat dibawa keluar arena perang.

Dalam pesta ini, yang menjadi puncak acara adalah pertempuran antara suku Dani, Yali, dan Lani saat mereka mengirim prajurit terbaiknya ke arena perang. Festival ini juga dimeriahkan dengan Pesta Babi yang dimasak di bawah tanah, juga disertai musik dan tari tradisional khas Papua, ada juga seni dan kerajinan buatan tangan yang dipamerkan atau untuk dijual, selain itu Anda dapat menyaksikan perlombaan memanah, melempar sege atau tongkat ke sasaran,puradan yaitu menggulirkan roda dari anyaman rotan, dan sikoko yaitu melempar pion ke sasaran.

Acara ini merupakan festival tertua di Papua, juga sebagai langkah konkret pemerintah daerah untuk melestarikan kesenian tradisional dan nilai-nilai inti dari suku Hubula (Dani). Acara ini juga merupakan aset penting untuk meningkatkan pendapatan lokal daerah.

Jika ingin menikmati festival budaya ini, anda bisa cek harga tiketpesawat terlebih dahulu, mengingat perjalanan menuju Wamena hanya ada perjalanan via udara, tidak ada jalur darat. Jika anda berniat pergi kesana, disarankan mencari promo tiket penerbangan jauh-jauh hari, anda bisa klik Reservasi.com untuk melihat promo tiket dan membeli tiket pesawat ke Jayapura.

Dengan menghadiri Festival Lembah Baliem, maka Anda akan memiliki kesempatan langka untuk belajar dan bersentuhan langsung dengan beragam tradisi suku-suku setempat, festival ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan nilai-nilai dan budaya tradisional suku dan melambangkan tinggi Roh dan kuasa yang telah dilakukan selama beberapa generasi.

sebarkan facebook Twitter Google Plus
Melihat Keseruan Perang Antar Suku Dalam Festival Lembah Baliem, Papua | arief16 | 4.5