Saya Miris Jika Kita Saling Mencaci
Sudut Pandang

Saya Miris Jika Kita Saling Mencaci
Oleh @riefputera


Tulisan ini merupakan Status FaceBoook saya (1/11/13 11.26 WITA). Sedikit kontroversi dan dapat mencoreng hati. Dan Allah maha pembolak-balik hati. Jika saya salah, semoga nantinya bener. kalo udah bener, semoga  diistiqamahkan. Dan status ini tertulis begitu saja, tanpa proses editing.

Dan pendapat saya tidaklah mutlak benar. Wajar jika ada perbedaan, karena Ulama besar seperti Imam Maliki dan Imam Syafi’i saja bisa berbeda, Umar dan Ustman saja bisa berbeda, apalagi saya yang awam ini.

Terserah anda setuju atau tidak. Dan jika tidak, mohon jangan di debat. Biarkan Tuhan yang nanti akan menjawab.

Entah saya termasuk orang idealis atau bukan, saya tak pernah mau pusingkan. Karena saya sendiri bukanlah orang yang terlalu suka dikelompok-kelompokkan.

pernah ada yang nanya saya kayak begini (dosen):
– Kamu NU ? Bukan
– Kamu Muhammadiyah ? Bukan
– Kamu HT ? Bukan
– Kamu IM ? Bukan
– Kamu Syiah ? Bukan
– Kamu Salafi ? Bukan.

Lah, kok saya sering kamu ikut pengajian anak-anak pesantren ya? cara ibadahmu juga sama dengan NU? Ngapa nggak mau sih disebut NU?

Begini pak, saya mempercayai bahwa ajaran yang dibawa agama Nabi Muhammad (ISLAM) itu adalah yang paling benar. Dan saya ingin belajar tentang itu.

Nah kenapa saya sering belajar dengan kalangan pesantren (meskipun saya bukan santri) ?

Karena menurut saya (ini menurut saya loh ya, dan bisa saja salah) bahwa ustadz yang ngajar dipesantren itu memakai (menggunakan/mempelajari) kitab yang ditulis oleh ulama masyhur.

Ulama masyhur tersebut juga belajar kepada ulama, dan guru ulama tersebut juga belajar kepada ulama, dan guru dari ulama tempat guru saya belajar tersebut belajar kepada ulama lain.

Terus begitu hingga mata rantainya kepada ulama yang belajar kepada Para Sahabat dan Sahabat belajar kepada Baginda Rasulullah SAW.

Dan lagi, ustadz yang membacakan kitab tersebut juga tak menafsirkan kitab yang ia baca dengan sepeti kemampuan otak beliau saja, karena beliau juga mempelajari isi kitab tersebut dengan guru belia, dan guru beliua juga berguru pada seorang ulama, yang mana ulama tersebut juga berguru kepada ulama, terus begitu hingga mata rantainya bersumber kepada Rasulullah SAW.

Dan maaf jika saya kurang terlalu sependapat dengan orang-orang yang menafsirkan Al Quran sendiri, tanpa berguru. Atau sudah mampu menyampaikan ceramah dengan hanya membeli 2-3 buah buku yang di beli di pasar, tanpa berguru.

Apakah tak ada ketakutan dihati anda jika anda hanya menafsirkan sesuatu hanya berdasarkan pemahaman anda?

Dan konsep Dakwah saja mungkin akan berbeda, antara kita dan dirinya.

Dan memang Taqlid sangatlah dilarang, tapi apakah taqlid kepada otak kita juga dibenarkan?

Jika kita tak tahu dalam suatu hal, mungkin jangan terlalu banyak protes adalah solusinya. Jika sependapat, kerjakanlah. Jika tidak, jangan dikerjakan. Tak perlu lah kita untuk menghujat. Karena hujatan itu bukanlah sesuatu yang dibenarkan.

Dan masalah perbedaan ini biasanya terletak di bagian FIQH. Hal yang wajar mengingat Ulama Besar saja masih berbeda pendapat, apalagi bagi kita yang masih awam ini.

Dan tak perlu lah kiranya kita MENGHUJAT orang-orang yang masih menjalankan “Rukun Islam” dan menerapkan “Rukun Iman”. Meski kadang cara dia beribadah dan cara pandangnya terhadap sesuatu tak sama dengan kita.

Dan jika kita SALING MENGHUJAT? Siapa yang akan menang?

Bukan kelompok ini atau itu yang akan menang, tapi kaum kafir lah yang tertawa terbahak-bahak.

Saatnya bersatu, jangan lagi terlalu jauh DISEKAT oleh perbedaan yang tidak mendasar.

Miris juga ketika IM dan HT yang saling serang, atau aktifis NU dan Muhammadiyah yang nggak mau berteman.

Saya juga miris ketika menyaksikan aktifis PMII, HMI, KAMMI, HTI, dan pergerakan islam lainnya saling memupuk PRASANGKA BURUK satu sama lain.

Dan saya ingatkan sekali lagi, MENGHUJAT, MEREMEHKAN, MENCACI bukanlah perbuatan orang yang di KTP-nya tersemat kata ISLAM.

Selamat Hari Jum’at, semoga apa saja yang kita lakukan hari ini mendapat berkah . . ..

sebarkan facebook Twitter Google Plus
Arief Putera - Saya Miris Jika Kita Saling Mencaci - Teropongku.com - 628-9897-54-275 -33285 - 1145892