Mengenal Kredit Tanpa Angunan Bunga Rendah
Atur Duit

Kebutuhan dan keinginan masing-masing orang tentu berbeda. Begitu pula dengan sumber daya yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut. Perbedaan inilah yang ditangkap oleh para penjual dan disampaikan melalui produk atau jasa yang mereka tawarkan. Lihat saja sekeliling kita, beragam jenis penjual produk dan jasa. Mulai dari produk-produk kelas internasional sampai kelas tradisional. Mulai dari jasa yang bersifat mudah sampai yang sulit.

Fenomena ini juga berlaku untuk produk-produk keuangan. Sebelum kita bahas lebih lanjut, tidak ada salahnya kita memahami teori berikut. Dalam teori ekonomi sering kita kenal hukum supply dan demand. Yang berarti dimana ada penawaran, disitu ada permintaan dan sebaliknya, dimana ada permintaan maka ada penawaran. Uang, merupakan suatu hal yang memiliki peranan penting dalam kehidupan. Maka tidak mengherankan jika akan terdapat banyak variasi atas penawaran dan permintaan yang berkaitan uang.

Pemerintah tentu tidak berdiam diri atas siklus permintaan dan penawaran uang tersebut. Maka, sebagai pihak yang harus melakukan stabilisasi atas supply demand dimaksud Pemerintah melakukan fungsi kebijakan fiscal dan moneter bagi kelangsungan peredaran uang di suatu Negara. Di Indonesia peran moneter ini dipegang oleh Bank Indonesia. Salah satu peran BI sebagai pengambil kebijakan moneter terlihat dari adanya produk tingkat suku bunga yang dikeluarkan.

Tingkat suku bunga ini akan dipengaruhi oleh supply demand atas uang. Sebagai contoh, ketika terjadi krisis keuangan pada tahun 1998 dan 2008. Pada 1998, bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga bank. Asumsi yang digunakan adalah, agar para debitur dapat membayar kewajibannya, baik yang bernilai dollar maupun rupiah. Dampaknya? Banyak sekali nasabah pemegang deposito menarik uangnya, karena dianggap suku bunga tidak menarik.

Berbeda dengan krisis yang terjadi pada tahun 2008. Berkaca pada krisis 10 tahuh sebelumnya, maka Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga bank saat itu. Dengan harapan banyak nasabah akan menyimpan uang di bank, dan tidak terjadi rush (penarikan besar-besaran). Sehingga Negara masih mempunyai uang yang cukup untuk melayani kebutuhan dana masyarakat.

Lalu apa hubungannya dengan kredit tanpa agunan bunga rendah? Di awal tadi sudah disampaikan bahwa uang pun menjadi komoditi pasar. Ada permintaan maka ada penawaran. Banyak orang menginginkan bagaimana kebutuhan uang mereka tercukupi. Bagi yang berpenghasilan besar, sudah bukan lagi cukup yang menjadi kebutuhan. Akan tetapi bagaimana agar uang yang mereka miliki bertambah. Inilah yang menjadi celah bagi penjual produk yang berkaitan dengan uang.

Bagi yang kebutuhan uangnya belum tercukupi tentu produk yang ditawarkan adalah dengan memberikan fasilitas pinjaman seperti KTA atau Kredit Tanpa Agunan. Di lain pihak, para pemasar juga memahami kesulitan para peminjam. Mereka paham bahwa ketika seseorang butuh pinjaman tentu mereka memiliki keterbatasan sumber daya. Namun mereka juga akan melakukan segala cara agar kebutuhan dananya akan tercukupi. Sehingga muncullah produk kredit tanpa agunan dengan bunga rendah.

Bunga rendah yang ditawarkan oleh para pemasar produk, seharusnya berpatokan pada bunga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Artinya, ketika BI menurunkan tingkat suku bunga maka seharusnya pemasar juga menurunkan tingkat suku bunga yang mereka tawarkan, pun sebaliknya. Namun yang perlu dicermati, apakah semua produk kredit tanpa agunan dengan bunga rendah sudah melalui mekanisme itu? Apalagi untuk produk yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga yang tidak resmi yang biasanya ditawarkan melalui sms atau internet. Banyak sekali dari lembaga non keuangan tidak resmi ini yang menetapkan bunga tanpa dasar. Selama menguntungkan mereka akan mengeksekusi dengan segala cara.

sebarkan facebook Twitter Google Plus
Arief Putera - Mengenal Kredit Tanpa Angunan Bunga Rendah - Teropongku.com - 628-9897-54-275 -33285 - 1145892