Selasa, 19 Desember 2017 Tetap Bugar
Obat Herbal Juga Bisa Berbahaya! Simak Penjelasannya Disini

Penggunaan bahan-bahan herbal sebagai alternatif pengobatan alami banyak menjadi pilihan masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari masih banyaknya penjual jamu tradisional atau berbagai produk obat-obatan alami yang beredar di pasaran. Namun, apakah obat yang terbuat dari bahan-bahan alami ini sudah pasti aman untuk dikonsumsi? Simak penjelasannya berikut ini.

Apakah Obat Herbal Aman untuk Dikonsumsi?

Obat herbal terbuat dari tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat untuk kesehatan. Bisa dari buah, biji, akar, daun, bunga, ataupun kulit kayu. Bahan-bahan tersebut kemudian diproses dan dikemas dalam bentuk tablet, kapsul, minyak, salep, hingga minuman.

Karena dibuat dari bahan-bahan alami, masyarakat kemudian berpikir bahwa obat herbal aman untuk dikonsumsi. Terlebih lagi jika kandungan yang ada di dalam obat tersebut sudah digunakan secara turun-temurun untuk tujuan kesehatan. Padahal, obat herbal sebenarnya juga memiliki kandungan senyawa kimia yang berpotensi menimbulkan efek samping.

Prof. Maksum Radji, Guru Besar Tetap Ilmu Farmasi Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa kandungan senyawa yang terdapat dalam obat-obatan herbal selain berkhasiat juga memungkinkan menyebabkan efek samping yang merugikan.

Lebih jauh lagi, beliau juga mengatakan bahwa suatu produk herbal hanya dapat dinyatakan aman jika sudah terbukti secara ilmiah melalui serangkaian uji keamanan, mulai dari uji toksisitas sub-akut, uji toksisitas akut, uji toksisitas kronik, serta uji teratogenik.

Sayangnya, sebagian obat-obatan herbal yang beredar di pasaran yang tergolong dalam kategori jamu dan Obat Herbal Terstandar (OHT) belum dapat terbukti keamanannya. Penelitian tentang khasiat OHT umumnya masih dilakukan pada percobaan in vitro pada hewan lab. Namun, hasil percobaan praklinik tersebut sering kali dijadikan dasar bahwa obat herbal berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit.

Sementara itu, meskipun jamu menggunakan ramuan rempah yang sudah digunakan secara turun-temurun, tidak ada dosis dan indikasi yang pasti dari bahan-bahan yang terkandung di dalamnya.

Padahal, menurut Prof. Maksum Radji, untuk dapat digunakan dalam pengobatan, semua bahan masih harus dilakukan serangkaian tahapan uji klinik untuk memastikan tingkat keamanan, dosis, efektivitas, cara penggunaan, monitoring efek samping, serta interaksinya dengan senyawa obat yang lain.

Mengonsumsi Obat Herbal Boleh Saja, Asal….

Mengonsumsi obat-obatan herbal sebagai alternatif pelengkap dari obat sintetis sebenarnya sah-sah saja dilakukan, asalkan sudah melalui serangkaian uji klinis untuk membuktikan khasiatnya dan terdaftar di BPOM RI.

Obat herbal racikan yang berupa rebusan juga relatif aman untuk dikonsumsi, karena zat-zat beracun yang mungkin terkandung di dalamnya sudah mengalami perubahan struktur kimia. Sementara obat herbal racikan yang diproses dengan metode lain sebaiknya diteliti lebih jauh lagi keamanannya.

Meski begitu, obat herbal biasanya baru menunjukkan hasil setelah dikonsumsi rutin dalam jangka panjang. Karenanya, obat herbal dan jamu sebaiknya hanya dikonsumsi untuk menjaga kesehatan atau menurunkan risiko penyakit, sedangkan penyembuhan penyakit sebaiknya menggunakan obat dari resep dokter.

Dosis dan penggunaan obat herbal juga perlu diperhatikan jika Anda sedang menggunakan obat lain. Obat-obatan herbal sebaiknya dikonsumsi satu sampai dua jam setelah obat medis untuk menghindari risiko interaksi senyawa kimia.

Bahaya Obat Herbal yang Mengandung Bahan Kimia untuk Kesehatan Jangka Panjang

Tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap obat-obatan herbal membuat banyak produsen yang menawarkan khasiat obat herbal sebagai media penyembuhan alami. Sayangnya, di pasaran banyak beredar obat-obatan herbal yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO).

Kandungan BKO pada obat-obatan herbal dapat berakibat fatal dan merusak kesehatan jangka panjang. Pasalnya, menurut drs. Ondri Dwi Sampurno, MSi, Apt, Deputi Bidang Pengawas Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen BPOM, penggunaan obat tradisional memiliki cara kerja jangka panjang sehingga apabila terdapat kandungan bahan kimia dengan dosis yang tidak tepat, maka dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

Salah satu contohnya adalah obat herbal viagra yang mengandung sildenafil. Jika penggunaannya tidak dilakukan dengan dosis dan aturan konsumsi yang benar, efeknya dapat menyebabkan penyakit strok atau jantung.

Beliau juga menyebutkan bahaya kandungan parasetamol dan fenilbutazon pada obat herbal yang dapat memicu kerusakan pada organ hati, serta campuran fenilbutazon dan sibutramin HCL yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal.

Baca juga : 30 Tanaman Herbal Beserta Manfaatnya Bagi Kesehatan Tubuh

Karenanya, usahakan untuk lebih waspada dan cerdik dalam memilih obat herbal. Pastikan Anda membeli obat herbal yang sudah teruji secara klinis dan memiliki nomor registrasi BPOM yang tertera pada kemasan produknya, seperti yang disediakan oleh Harvest Supplement. Seluruh obat herbal dari Harvest Supplement telah melewati uji klinis dan bersertifikat BPOM, sehingga aman untuk dikonsumsi. Selain itu, Harvest Supplement hanya menggunakan bahan-bahan pilihan berkualitas tinggi dan telah membantu masyarakat Indonesia sejak tahun 2004.

BAGIKAN KE: Teropongku.com WA Teropongku.com LINE Teropongku Twitter Google Plus