Senin, 27 Agustus 2018 Inspiratif
Sukanto Membangun Tanoto Forestry Information Center Demi Perkembangan Industri Kehutanan

Image Source: Tanoto Foundation
https://www.tanotofoundation.org/education/wp-content/uploads/sites/2/2016/03/TFIC-1-1024×683.jpg

Sukanto Tanoto diberi julukan sebagai Raja Sumber Daya oleh kolega sesama pengusaha. Predikat itu muncul berkat kemampuannya dalam membesarkan RGE. Perusahaannya ini berkembang pesat dari skala lokal menjadi korporasi berkelas internasional dengan aset hingga 18 miliar dolar Amerika Serikat.

Sesuai julukan pendirinya, RGE bergerak di bidang sumber daya alam. Mereka memiliki anak-anak perusahaan yang beroperasi di sektor kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, serta minyak dan gas. Perusahaan itu tersebar dari Indonesia, Brasil, Kanada, Tiongkok, hingga Spanyol.

Saat ini, Sukanto Tanoto memegang kendali RGE sebagai chairman. Selain menentukan arah RGE ke depan, ternyata sekarang ia ingin berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.

“Saya menginginkan keberlanjutan. Masih banyak hal yang perlu dilakukan dan saya tidak bisa melakukannya seorang diri. Tugas utama saya adalah menjaga kelangsungan perusahaan dan memastikan keberadaannya berguna bagi negara,” ujar pria kelahiran Belawan ini.

Banyak hal yang telah dilakukan oleh Sukanto Tanoto untuk membantu perkembangan bangsa. Salah satunya dengan mendukung perkembangan industri kehutanan. Bidang inilah yang ditekuninya sejak pertama kali mendirikan RGE pada 1967.

Industri kehutanan dalam negeri memang tidak bisa dipandang remeh. Belakangan sektor ini semakin berkembang. Hal itu terindikasi dari peningkatan nilai ekspornya.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada 2017, nilai ekspor produk industri kehutanan mencapai 10,88 miliar dolar AS. Nilai tersebut meningkat dari tahun sebelumnya. Patut diketahui, pada tahun 2016, nilai ekspornya menembus angka 9,26 miliar dolar AS.

Pencapaian itu memang menggembirakan. Namun, masih banyak potensi besar yang harus dikembangkan. Sebab, jika dikelola dengan baik, kontribusi industri kehutanan masih dapat didorong lebih baik lagi.

Hal itulah yang mendorong Sukanto Tanoto melakukan sejumlah upaya untuk mengembangkan industri kehutanan lokal. Saat ini, ia tahu bahwa sektor ini masih kurang optimal dalam memanfaatkan sains. Padahal, ilmu pengetahuan merupakan kunci kesuksesan bisnis di bidang tersebut.

Contoh baik ada di Finlandia. Dengan memanfaatkan sains, mereka mampu menjadi pemain besar dalam industri pulp dan kertas dunia. Padahal, negara ini terletak di kawasan empat musim. Mereka perlu waktu hingga 25 tahun untuk menumbuhkan pohon sebelum bisa dipanen.

Akan tetapi, dengan pendekatan sains, problem tersebut dapat diatasi. Alhasil, Finlandia mampu memproduksi pulp dan kertas hingga 11,3 juta ton per tahun. Ini menempatkan mereka berada di peringkat ketujuh dalam daftar negara produsen pulp dan kertas terbesar di dunia, mengungguli Indonesia yang ada di peringkat kesepuluh.

Sukanto Tanoto juga telah mempraktikkan pemanfaatan sains di RGE dengan baik. Dengan ilmu pengetahuan, perusahaannya berhasil meningkatkan kapasitas produksi. Contohnya adalah Grup APRIL yang bergerak di sektor pulp dan kertas.

Saat ini, APRIL mencapai kapasitas produksi terpasang 2,8 juta ton pulp dan 1,15 juta ton kertas per tahun. APRIL mengelola perkebunan seluas 480 ribu hektare yang ditanami pohon akasia sebagai bahan baku.

APRIL tidak pernah membabat pohon dari hutan alam untuk memenuhi kebutuhan bahan baku. Mereka memilih untuk memaksimalkan hasil perkebunan untuk suplai fiber. Caranya ialah dengan memanfaatkan sains.

Tim riset dan pengembangan APRIL ditugasi untuk mencari cara untuk memaksimalkan hasil perkebunan. Mereka melakukan berbagai upaya mulai dari pemenuhan bibit, rekayasa genetika, hingga sistem pengelolaan yang baik.

Hasilnya memuaskan. Hasil panen di perkebunan APRIL terbilang tinggi. Per tahun, mereka mampu menghasilkan 32 meter kubik per hektare. Jumlah ini meningkat dari pencapaian pada 1996. Ketika itu, APRIL hanya menghasilkan 22 meter kubik untuk setiap hektare. Berkat itu, suplai bahan baku di APRIL terus terjaga.

 

PENDIRIAN TFIC

Image Source: Tanoto Foundation (https://www.tanotofoundation.org/education/wp-content/uploads/sites/2/2016/03/TFIC-6-1024×683.jpg)

Sains memang diketahui berdampak penting bagi kemajuan industri kehutanan. Namun, pemanfaatannya di Indonesia masih minim. Ini tak lepas dari jumlah peneliti di bidang tersebut yang minim.

Berdasarkan data dari UNESCO pada 2016, jumlah peneliti di Indonesia merupakan yang terkecil di antara negara-negara anggota G-20. Rasio jumlah periset di negeri kita hanya 89 peneliti untuk per 1 juta penduduk. Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan Singapura yang memiliki 6.658 peneliti per 1 juta penduduk.

Jumlah peneliti yang minim berdampak terhadap jumlah penelitian yang dihasilkan. Jumlahnya ikut mengecil. Menurut kopertis12.or.id, dalam setahun Indonesia hanya mampu menghasilkan 6.260 riset. Bandingkan dengan Malaysia yang mampu membuat 25.000 riset, Singapura 18.000 riset, dan Thailand 12.000–13.000 riset. Negeri kita jauh tertinggal.

Hal ini yang akhirnya mendorong Sukanto Tanoto untuk mendirikan Tanoto Forestry Information Center (TFIC). Oleh karena itu, memanfaatkan yayasan yang didirikannya, Tanoto Foundation, Sukanto Tanoto segera mengeksekusi pendirian TFIC.

Tanoto Foundation menjalin kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada 2012, melalui dana hibah yang diberikan, TFIC mulai dibangun di area kampus IPB di Bogor. Pembangunan itu memakan waktu selama setahun sebelum akhirnya dapat digunakan.

TFIC akhirnya berdiri di kampus IPB. Di dalam gedung tiga lantai dengan luas 1.500 meter persegi ini terdapat video, panel, dan jurnal ilmu kehutanan. Selain itu, ada pula ruang serbaguna yang dapat digunakan menggelar berbagai jenis kegiatan.

Akan tetapi, Sukanto Tanoto berharap TFIC tidak hanya menjadi sebuah bangunan belaka. Ia menginginkan TFIC mampu menjadi sarana pengembangan ilmu kehutanan demi kemajuan industrinya. Selain itu, pria kelahiran 25 Desember 1949 ini juga menginginkan para ilmuwan kehutanan bisa menjadikan TFIC sebagai wadah untuk mengembangkan jejaring untuk sesama peneliti.

“Pada akhirnya berbagai aktivitas dalam TFIC ini sebagai jalan bagi lahirnya ilmuwan dan praktisi kehutanan yang unggul di tingkat Internasional,” ucap Sukanto Tanoto.

Pemilihan IPB sebagai lokasi TFIC bukan tanpa alasan. IPB dianggap berpengalaman dalam bidang kehutanan. Kapasitas mereka dalam pengembangan ilmu tentang hutan juga tak perlu dipertanyakan lagi.

Meski begitu, Sukanto Tanoto berharap IPB tidak bekerja sendirian. Ia mendorong supaya IPB mau menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi lain baik yang ada di dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini supaya jejaring yang diharapkan muncul dapat terjadi. Maklum saja, relasi terjalin apik, Sukanto Tanoto yakin TFIC kian bermanfaat bagi pengembangan ilmu kehutanan di Indonesia.

“Untuk itu, kami harapkan IPB dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi lain serta lembaga penelitian dapat mendukung informasi dan riset bidang kehutanan,” kata Sukanto Tanoto.

Harapan Sukanto Tanoto pelan-pelan menjadi kenyataan. Saat ini, banyak pihak yang memanfaatkan TFIC untuk pengembangan ilmu kehutanan. Hal tersebut ditandai dengan jumlah pihak yang menggunakannya untuk berbagai keperluan kian bertambah.

Menurut catatan Tanoto Foundation, hingga Desember 2015, ada sekitar 1.900 mahasiswa IPB yang sudah memanfaatkan TFIC. Jumlah tersebut masih ditambah dengan 120 orang dosen yang ikut menggunakannya.
Fakta yang sudah dipaparkan tersebut memperlihatkan kontribusi besar Sukanto Tanoto dalam pengembangan ilmu kehutanan yang mendukung industrinya. Sebagai praktisi, ia memberikan sejumlah saran berharga. Namun, pendiri RGE ini melengkapinya dengan pembangunan TFIC yang membantu pengembangan industri kehutanan dalam negeri.

BAGIKAN KE: Teropongku.com WA Teropongku.com LINE Teropongku Twitter Google Plus