Caleg Punya Website Pribadi, Buat Apa Sih?

Tahun politik akan segala tiba dan masa kampanye memang sudah dimulai. Tak hanya untuk pemilihan presiden yang gesekannya sudah sangat terasa, tetapi juga untuk pemilihan calon legislatif (caleg).

Berbagai cara dilakukan oleh para calon legislatif untuk menarik hati para pemilih, baik di daerah maupun skala nasional agar bisa menggapai ‘impian’ untuk menduduki kursi panas DPR, DPRD maupun DPD.

Ada yang melakukan cara-cara konservatif seperti melakukan safari politik, menemui warga secara langsung, dan memasang banyak poster dan baliho di tempat-tempat strategis.

Adapun bagi caleg yang menyasar suara generasi milenial, kampanye digital dijadikan pilihan utama dalam menyampaikan visi dan misi, baik itu melalui media sosial seperti twitter dan instagram, hingga membuat website pribadi khusus yang menampilkan profil calon yang bersangkutan.

Manfaat Website Pribadi Bagi Para Calon Legislatif

Dari pengamatan dan obrolan saya dengan beberapa caleg, terdapat beberapa keuntungan yang bisa didapat dari sebuah website pribadi, diantaranya adalah sebagai berikut

  1. Menaikkan Kredibilitas (atau Gengsi?)

Menaikkan kredibilitas boleh jadi merupakan alasan utama dari banyak calon legislatif yang membuat sebuah website pribadi. Biasanya dalam poster, baliho, atau alat peraga lainnya yang dipergunakan, akan dicantumkan sebuah alamat website yang bisa dikunjungi. Bagi calon pemilih ‘awam’ hal ini bisa menjadi daya tarik tersendiri karena merasa caleg yang bersangkutan lebih modern dan keren. Bisa dibilang cara ini sebagai rasa gengsi para caleg dalam menghadapi perkembangan zaman

  1. Memberitahukan Visi Misi dan Profil Calon Legislatif Secara Lengkap dan Jelas

Ruang yang tersedia dalam poster, spanduk, dan alat peraga kampanye lain yang konservatif lainnya sangatlah terbatas. Biasanya di dalam alat peraga tersebut sudah terisi penuh hanya dengan foto wajah caleg dan partai yang mengusungnya, plus tagline catchy kalau ada. Di sana tak bisa lagi disisipkan visi misi apalagi profil hidup.

Calon legislatif yang sudah blusukan ke kampung-kampung, atau sudah orasi dari panggung ke panggung, juga biasanya mengalami masalah ketika calon pemilih yang disasar malah lupa siapa caleg itu ketika sudah sampai di rumah.

Nah, bagi calon legislatif yang memang ingin dikenal lebih dalam oleh calon pemilihnya, atau ingin diiang apa-apa saja buah pemikirannya, maka website menjadi salah satu alternatif yang sangat pas untuk memuat semua hal tentang dirinya.

  1. Pencitraan

Citra adalah sebuah pandangan (pendapat) masyarakat tentang diri seseorang. Citra yang baik memang dibutuhkan oleh calon legislatif untuk bisa mendapatkan satu kursi di gedung anggota dewan yang terhormat, dan pencitraan bukanlah hal yang salah. Bagi beberapa figur yang memang sudah terkenal, memang lebih mudah mendapatkan citra dari masarakat karena banyak diliput oleh media massa seperti koran dan televisi.

Bagaimana dengan caleg yang kurang terkenal? Ya jawabannya adalah membikin sendiri media yang mencitrakan dirinya dan website pribadi solusi yang tepat

  1. Lebih Murah

Sudah menjadi rahasia umum kalau biaya kampanye itu sangatlah besar. Bayangin aja, untuk nyetak spanduk aja harus perlu modal ratusan juta, belum lagi biaya sewa tempat pemasangan baliho dan lain-lain.

Untuk menekan biaya, membuat website bisa jadi alternatif murah meriah. Caleg hanya perlu merogoh koceh untuk sewa domain, hosting, dan seorang webmaster untuk mengurusnya. Misalnya untuk sewa Hosting Unlimited dan domain, di NiagaHoster hanya perlu mengeluarkan kocek tidak lebih dari 1 juta pertahun. Sedangkan untuk webmaster profesional sudah banyak yang tersedia, terutama para pekerja lepas yang mau dibayar 1jt an perbulan ataupun sesuai nego yang bersangkutan.

Bayangkan betapa ‘murahnya’ sebuah website yang bisa dikunjungi ribuan orang dari berbagai daerah jika dibandingkan dengan alat peraga kampanye lain yang bisa menghabiskan milyaran rupiah.

Kesalahan Calon Legislatif  Dalam Mempergunakan Website Pribadi

Meski menawarkan berbagai keuntungan, nyatanya banyak dari caleg yang tidak mempergunakan website yang dipunya secara optimal karena berbagai kesalahan. Bukannya untung, malah buntung.

Mungkin bagi calon pemilih awam, memiliki website saja sudah keren. Tapi sekarang zamannya sudah bergerak bung, membuat website saja tidak cukup.

Berikut adalah beberapa kesalahan yang dilakukan caleg dalam mengelola website pribadi (tentunya bukan kesalahan melanggar undang-undang ataupun peraturan pemilu loh ya)

  1. Tidak Lengkapnya Profil Calon Legislatif

Website pribadi adalah website kepunyaan pribadi, jadi bisa di desain sesuka kita. Jadi alangkah ruginya jika informasi yang terdapat dalam website tidak dipaparkan secara lengkap. Selain dilengkapi biodata dan visi misi, website caleg yang baik juga berisi kisah hidup yang menarik dari calon yang bersangkutan. Ada baiknya website dilengkapi dengan berbagai  foto, baik itu foto sendiri hingga foto yang menunjukkan betapa hangatnya sang caleg baik itu bersama keluarga juga masyarakat.

  1. Banyak Link Yang Tidak Bisa di Klik

Link atau tautan adalah salah satu trik agar pengunjung betah berlama-lama di sebuah website. Ayolah bagi para caleg pemilik website, perbaikilah link di website anda untuk mengobati dahaga-dahaga para calon pemilihmu yang kepo.

  1. Website Yang Lelet

Website yang lelet memang sangat menyebalkan. Jangankan untuk berlama-lama membuka satu persatu link yang tersedia, menunggu satu halaman agar terbuka secara sempurna saja sudah merupakan hal yang membosankan.

Ketika anda membuka sebuah website dan lelet, yang salah bukan hanya sinyal anda. Bisa jadi karena webhosting anda yang bermasalah, atau desain yang terlalu ramai yang tidak mengutamakan kecepatan website.

Sewalah hosting yang memang terbukti tahan banting dan gunakanlah tampilan yang sederhana. Jangan sampai pengunjung website anda kabur hanya karena lemot.

  1. Tidak Menempatkan Link Media Sosial Caleg

Media sosial seperti facebook, instagram, dan twitter menjadi sangat penting di zaman ini, terutama untuk keperluan komunikasi langsung dengan pemilih caleg yang bersangkutan. Jika tak bisa memakai semuanya, sebaiknya pilih salah satu. Dan kemudian link dari media sosial yang dipilih seharusnya ditempatkan di website caleg agar pemilih bisa dengan mudah menghubungi calegnya jika ada kritik, saran, dan pertanyaan.

  1. Tidak Ada Pandangan Si Caleg Terhadap Suatu Isu

Bagi para pemilih awam, memiliki website saja sudah bagus untuk para caleg. Namun untuk pendidikan politik yang lebih baik di negeri ini, ada baiknya calon legislatif juga meluangkan waktunya untuk menulis dan menanggapi suatu isu yang terjadi di masyarakat, baik itu secara opini maupun kisah hidup. Hal ini adalah yang benar-benar menaikkan kredibilitas dan membentuk citra caleg itu sendiri di masyarakat.

Ada lagi yang lain?

Mohon Tinggalkan Komentar Di Bawah Ini
BAGIKAN KE: Teropongku.com WA Teropongku.com LINE Teropongku Twitter Google Plus