Kamis, 29 November 2018 Bisnis Properti
Iklim Pengembangan Investasi Properti di Boyolali

Belakangan nama Boyolali kerap mencuat di beberapa media nasional setelah calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto yang berguyon kata ‘tampang boyolali’ dalam pidato didepan simpatisannya di Jawa Tengah. Pada klarifikasinya, Prabowo Subianto juga mengemukakan tentang permasalahan yang dialami oleh kabupaten Boyolali, khususnya dalam sektor ekonomi yang ia rasa harus dibenahi.

Untuk saat ini, Boyolali merupakan salah satu wilayah di Jawa Tengah yang sedang gencar-gencarnya untuk menumbuhkan sektor perekonomiannya. Dilansir dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali, pertumbuhan ekonomi kabupaten Boyolali jika dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) selalu berada di atas angka 5 persen selama 6 tahun (2011-2016), yang mana berada di atas realisasi PDRB secara nasional. Tahun lalu saja PDRB Boyolali diketahui mencapai Rp20,17 triliun, pertumbuhan yang naik dari sebelumnya Rp19,11 triliun.

Untuk beberapa tahun belakangan, pertumbuhan ekonomi juga didukung dari investasi yang  masuk. Selama Januari hingga September 2018 saja, kontribusi akumulasi penerimaan modal masuk dalam negeri (PMDN) atau asing (PMA) dilansir oleh BKPM mencapai nilai Rp459 milyar.

Hal ini tentu didasarkan juga dari peran pemerintah kabupaten Boyolali yang mengundang secara besar-besaran investor untuk mengembangkan usahanya di wilayah tersebut.

Peran Investasi Properti

Diundangnya beragam investor untuk menanamkan modalnya, membuat dana investasi datang dari beragam sektor. Properti dapat dikatakan merupakan sebuah sektor yang kini sedang mengembangkan sayapnya.

Sugiyatno, Sekretaris Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan Rakyat (Himpera), mengatakan investasi properti di Boyolali dapat dikatakan sudah sangat layak untuk diekspansi besar-besaran jika melihat dari permintaan masyarakat yang tergolong tinggi

Menurutnya, saat ini permintaan hunian di Boyolali dikatakan cukup tinggi dan selalu mengalami pertumbuhan yang positif. Pangsa pasar sendiri beragam, hanya saja para pencari properti di Boyolali lebih mengincar hunian-hunian murah atau hunian bersubsidi. Ia mengatakan meskipun lebih banyak hunian untuk kelas masyarakat berpendapatan rendah, masyarakat berpendapatan menengah ke atas juga memiliki pasar tersendiri namun belum terlalu menonjol.

Potensi pasar dalam jangka waktu yang panjang datang dari para karyawan-karyawan pabrik-pabrik yang dalam dua sampai tiga tahun mulai mengoperasikan aktivitasnya di Kabupaten Boyolali.

“Tidak hanya masyarakat Boyolali, beberapa para pencari properti dari beragam wilayah sekitaran juga turut tertarik untuk memiliki beragam rumah dijual. Baik untuk ditempati (end-user) maupun sebagai aset investasi’, ujar Sugiyatno.

Meskipun permintaan sangat besar, namun masih terdapat permasalahan-permasalahan yang dialami para pengembang properti dalam penyediaan hunian. Permasalahan paling krusial terlihat pada rata-rata harga tanah yang semakin meninggi di wilayah tersebut, khususnya pada wilayah strategis dimana terlabelkan sebagai area pengembangan industri. Logikanya, jika permintaan sangat besar pada penyediaan hunian bersubsidi, tentu hal tersebut akan bermasalah kepada standar biaya pembangunannya. Permasalahan ini juga ditambah dengan harga material pengembangan yang kini naik.

Namun diantara permasalahan-permasalahan tersebut, sejumlah pengembang mengatakan sangat bersyukur dikarenakan regulasi peraturan yang kini sangat transparan dari pemerintah kabupaten Boyolali. Selain transparansi, proses perizinan juga diketahui semakin cepat terurus pasca pengaplikasian sistem online dengan konsep ‘one stop service‘.

“Regulasi perizinan saat ini sangat bagus dan transparan, pemerintah kami rasa sudah sangat welcome untuk pengembangan properti untuk masyarakat Boyolali”, tambahnya.

Mohon Tinggalkan Komentar Di Bawah Ini
BAGIKAN KE: Teropongku.com WA Teropongku.com LINE Teropongku Twitter Google Plus